Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
Akhir-akhir ini aku memang sering mengamatimu, diam-diam dan dari kejauhan. Aku ingin tahu, apa kiatmu sehingga Mas Han tunduk padamu. Sangat mencintaimu dan tak mampu meninggalkanmu. Aku ingin belajar darimu, bagaimana merawat Mas Han dan anak-anaknya. Karena suatu saat nanti, jika aku berhasil menggantikan posisimu, aku akan berlaku seperti kamu!
Sudah hampir dua tahun ini aku menjalin hubungan gelap dengan mas Han. Perkenalanku dengan laki-laki itu berawal di sebuah klub malam. Mas Han duduk sendirian di meja sudut. Kulihat wajahnya tampak muram dan tak bersemangat. Aku lalu menghampirinya. Dia tak menampik kehadiranku. Kami ngobrol. Lama. Tentang apa saja. Selanjutnya kami menjadi akrab. Kami menemukan chemistry!
Malam-malam berikutnya, aku jadi sering bertemu dengan Mas Han. Kami hanya minum-minum dan ngobrol. Aku merelakan diriku menjadi keranjang sampah. Mas Han butuh tempat untuk mencurahkan isi hati. Dia amat kesepian. Tak ada teman bicara. Dia memang sudah beristri, tapi istrinya terlalu sibuk di kantor. Anak-anaknya juga masih kecil.
Untuk melarikan kepenatan dia lalu pergi ke klub malam. Mencari hiburan, sekaligus teman. Mas Han punya banyak masalah di kantor. Sering ditekan atasan, tugas menumpuk, hasil kerja tidak sesuai target, ditambah intrik dan persaingan tidak sehat diantara sesama rekan kerja. Mas Han tidak punya teman yang bisa dipercaya. Mau bicara pada istri, khawatir nanti malah menambah beban. Lia, istrinya, sudah cukup repot mengurus rumah tangga dan pekerjaannya sendiri.
Akhirnya, larilah dia ke sini. Ke dalam pelukanku. Entah, kenapa dia merasa enjoy bersamaku. Dia mengakui kalau aku enak diajak bicara, tidak bawel, tidak nyinyir, mau mendengar, peduli, dan perhatian. Aku jadi tersenyum malu. Aku tak menganggap pujiannya gombal, karena aku tahu dia orang jujur –pertama kenalan dia terus terang mengaku sudah beristri dan punya dua anak yang manis-manis—, aku hanya merasa aneh saja. Baru kali ini ada orang memujiku. Padahal selama ini lebih banyak orang mencemoohku, bahkan menganggapku najis!
Sejak lahir hingga tumbuh dewasa sekarang, hidupku jauh dari belaian kasih sayang orang tua. Ayah dan ibuku bercerai saat aku masih berumur satu tahun. Konon, suami ibuku meragukan keabsahanku sebagai anak biologisnya. Aku dianggap anak hasil perselingkuhan. Malu oleh peristiwa itu, Ibu lalu lari ke luar negeri. Menjadi TKW di negeri jiran. Aku dititipkan pada nenek di desa. Nenek amat mengasihi dan memanjakanku. Tapi sayang, nenek tak bisa terlalu lama mendampingiku. Saat usiaku lima tahun, nenek dipanggil Tuhan.
Aku lalu diambil oleh Bibi, kerabat jauh Ibu. Aku dibawa ke kota dan tinggal bersama keluarganya. Suami Bibi seorang pedagang dan jarang berada di rumah. Sejak pagi buta dia berangkat ke pasar yang berada di luar kota, pulang ke rumah saat matahari sudah tenggelam, bahkan terkadang hingga larut malam. Anak Bibi berjumlah tiga, semuanya perempuan. Mereka sudah besar-besar. Watak mereka persis Bibi. Keras, judes, cerewet, malas, dan suka main perintah.
Bibi memperlakukan aku seperti pembantu. Meski aku disekolahkan, diberi makan, dan pakaian, tetapi aku juga harus bekerja. Sebelum berangkat ke sekolah, aku mesti bersih-bersih rumah dulu. Menyapu, mengepel, mencuci piring, dan pekerjaan rumah lainnya. Bila lalai atau berbuat kesalahan sedikit saja, Bibi langsung mencak-mencak. Aku diomeli, dimarahi, dicaci, bahkan sampai dipukul. Pernah aku dihajar pakai gagang sapu hingga patah gara-gara memecahkan vas bunga kesayangannya. Aku hanya bisa menangis dan merintih pilu.
Bukan hanya Bibi saja yang sering menderaku, ketiga anak perempuannya juga begitu. Bahkan putri bungsunya yang usianya dua tahun lebih tua dariku pernah menyiksaku. Suatu ketika aku dituduh menghilangkan barang mainannya. Tanpa ampun dia langsung menginjak-injak tubuhku, menendang, memukul, dan puncaknya menggunting telingaku hingga berdarah. Perbuatannya itu dibiarkan saja oleh Bibi. Ketika kemudian barang mainan itu ditemukan terselip di kolong ranjang, alih-alih mereka minta maaf malah aku disalahkan karena teledor waktu membereskan kamar. Sungguh, betapa pedihnya hatiku!
Hidupku memang jauh dari kebahagiaan. Hari-hari yang kujalani penuh coba-derita. Aku sebenarnya tak tahan diperlakukan seperti ini, tapi aku tak tahu ke mana mesti lari. Aku sudah tak punya keluarga. Ibu kandungku tak ketahuan di mana rimbanya. Waktu pemakaman Nenek dia tidak hadir. Konon, ibuku sudah kawin lagi dengan orang asing dan tinggal di Malaysia. Bahkan ada yang bilang sudah mati. Entahlah, yang jelas aku sebatang kara.
Saat usiaku beranjak dewasa, perlakuan Bibi dan ketiga putrinya tak berubah. Aku pun tumbuh menjadi sosok pendiam, minder, dan tertutup. Aku jarang bergaul di luar, karena Bibi sering melarangku pergi. Hidupku hanya berputar dari rumah, sekolah, dan warung tempat belanja. Hanya itu saja. Bahkan di sekolah pun aku sering mendapat perlakuan buruk, karena aku tampak berbeda. Teman-teman suka mengolok-olok dan mengejekku. Tapi aku hanya diam saja dan tak mau membalas.
Perlakuan kejam keluarga Bibi agak berkurang ketika satu persatu putrinya dilamar orang dan kemudian hidup terpisah dari orang tua. Bibi sendiri mulai dimakan usia, tenaganya lemah, dan sering sakit-sakitan. Tapi umpatannya masih terdengar lantang di telinga. Seruan ‘anak haram jadah’, ‘anak tak tahu diuntung’, ‘pemalas’, atau ‘lemot’ menjadi intro wajibnya bila memerintahku. Telinga dan perasaanku sudah cukup kebal mendengarnya. Asal tak menyebut ibuku pelacur saja, hatiku bisa cukup bersabar.
Aku tadinya merasa lebih tenang setelah ketiga putri Bibi pergi dari rumah dan hari-hari Bibi lebih banyak terkapar di ranjang karena stroke. Tapi ketenanganku terusik ketika suatu malam, saat aku sedang lelap di kamar, tiba-tiba aku merasakan tubuhku seperti ada yang menindih. Saat kubuka mata, jantungku seperti disambar petir. Wajah seram paman melekat di pelupuk mata. Dengan desis suara yang mendirikan bulu roma, paman meminta aku melayani syahwatnya. Dan malam jahanam itu menjadi malam kelam yang tak akan pernah terlupakan dari benakku.
Sejak kejadian itu, paman sering menyambangi aku malam-malam. Saat Bibi sudah terlelap di kamarnya. Apalagi belakangan usaha dagang paman menurun. Dia jarang lagi pergi ke pasar. Aku tak kuasa melawan kehendak paman, karena dia mengancam akan membunuhku bila berani buka mulut. Aku hanya bisa terpekur kelu. Perasaan pedih, tertekan, dan takut mendera jiwaku. Sungguh, hidupku serasa di dalam neraka. Aku cemas kebobrokan ini akan terbongkar. Aku bisa bayangkan, bagaimana murkanya Bibi dan ketiga putrinya bila mengetahui kejadian ini.
Setelah kupikir masak-masak, akhirnya aku memutuskan lari dari rumah Bibi. Pergi ke ibukota. Dengan peta buta aku menjelajah sudut-sudut kota Jakarta. Seperti burung yang terbang lepas aku hirup udara kebebasan. Kutemukan dunia yang selama ini kucari. Aku tak peduli bagaimana mencari makan, ke mana bersarang. Kebetulan ada pengelana malam berbaik hati menampungku. Dikenalkannya aku pada kehidupan malam. Meski sadar, dunia yang kujalani ini jauh dari norma-norma susila dan agama, tapi peduli setan. Toh, hidupku sudah terlanjur kotor dan hancur. Sekalian saja aku tenggelam!
Telah banyak lelaki hilir mudik menyambangiku. Namun dari semua yang hadir itu tak ada yang seperti Mas Han. Sungguh, dia lelaki istimewa. Dia bukan sekadar teman berkencan, tapi juga seperti sahabat, pacar, sekaligus belahan jiwa. Aku menemukan kecocokan dengannya. Mas Han orangnya lembut, romantis, sabar, dan tenang. Beda dengan laki-laki kebanyakan yang kasar, egois, dan temperamen. Dengan Mas Han aku seperti menemukan surga. Tak kupungkiri aku jatuh cinta padanya.
Ketika aku mencurahkan isi hatiku ini, dia malah tertawa.
“Kenapa, Mas? Aku benar-benar mencintaimu. Apakah kamu tidak cinta padaku?” rajukku.
“Ya, ya. Aku juga mencintaimu,” ucapnya datar.
“Kalau begitu, kenapa kamu tertawa?”
“Tidak kenapa-kenapa. Lucu saja!”
“Tidak lucu, Mas. Ini serius! Aku bahkan ingin menikah denganmu!” tegasku menekankan.
“Inilah yang lucu. Aku tak mungkin menikah denganmu. Apa kata orang nanti? Lagian, aku tak ingin menghancurkan keluargaku. Aku tak mungkin meninggalkan Lia. Aku tak mungkin meninggalkan anak-anak! Aku sangat mencintai mereka!” jawabnya.
Aku tertegun. Tiba-tiba aku tersadar. Hatiku serasa tertampar keras. Benar juga! Mas Han sudah punya istri, punya anak. Dia tak mungkin meninggalkan keluarganya demi manusia kotor sepertiku. Tapi aku seakan tak bisa menerima kenyataan ini. Aku kembali merajuk.
“Lalu, apa artinya hubungan kita ini, Mas?”
“Hubungan kita ya, seperti ini saja. Aku akan menemuimu saat aku membutuhkanmu. Kita tak perlu bikin komitmen apa-apa. Kita saling percaya saja bahwa kita saling mencintai. Bukankah cinta tidak harus saling memiliki? Karena cinta cukup untuk cinta!”
Dia menyitir sebuah ungkapan puitis seorang pujangga. Aku meneguk liur, pahit. Aku tak ingin sekadar mencinta, Mas. Aku juga ingin memiliki. Aku ingin diakui. Sejak lama aku hidup sebatang kara. Tak ada yang mengasihiku dengan setulus hati. Tak ada yang mau menerimaku apa adanya. Hanya kamu, Mas, yang bisa mengerti diriku, mau menerimaku dengan sepenuh hati.
Tiba-tiba aku dibelit rasa cemburu pada Lia. Aku ingin seperti dirinya, agar aku bisa mengecap kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga yang utuh. Keinginan itu yang mendorong aku akhir-akhir ini sering mengikuti Lia. Menyelidikinya. Mengamatinya dari jauh. Aku ingin tahu, di mana kekuatannya sehingga Mas Han tak berani melepasnya. Aku ingin belajar padanya bagaimana mengurus keluarga.
Tapi semakin aku mengenalnya, semakin banyak hal kutahu tentang dirinya, semakin ciut nyaliku. Kerdil jiwaku. Kamu begitu sempurna, Lia. Sangat sempurna. Kamu perempuan ideal dambaan semua pria. Cantik, anggun, pintar, seksi, berkelas, keibuan, dan pandai merawat keluarga. Sungguh, kamu memiliki segala yang diimpikan perempuan. Bila ada yang kurang pada dirimu hanya satu; kamu lalai menjaga suamimu!
Andai aku menjadi kamu, tak kubiarkan suamiku kelayapan di klub malam. Tak kubiarkan dia mencari teman bersandar di luar rumah. Tak kubiarkan dia menanggung beban sendirian. Tak kubiarkan dia kehilangan arah tujuan. Karena dia tidak hanya butuh cinta dan kepercayaan, tapi juga belaian kasih sayang, perhatian, dan kelembutan. Setangguh-tangguhnya lelaki, mereka juga punya sisi lemah!
Tapi itulah… aku tak mungkin menjadi kamu. Aku tak mungkin menggantikan kedudukanmu. Karena kutahu, sebuah kemustahilan melawan kodrat. Aku terlahir sebagai laki-laki, meski jiwaku perempuan. Entah, siapa yang patut disalahkan atas keadaanku ini. Tapi satu hal pasti, aku tak mungkin menggantikan kedudukanmu. Tapi ingin sekali kubisikkan padamu; jagalah suamimu agar dia tidak lari ke pelukan manusia sepertiku!
Oktober 15th, 2008 by andika destika khagen
Ia terkenang sepuluh tahun yang lalu. Pertama kalinya ia harus berjanji dengan dirinya untuk tidak pernah jujur. Betapa ia ringis mengenangnya. Tapi ia sadar harus melakukannya. Sejak itu ia tidak pernah berkata jujur kepada siapapun.
Ia masih anak-anak 7 tahun dari keluarga tidak berada. Anak-anak sebesarnya sedang sibuk mendaftar sekolah pertengahan bulan Juli, ia masih ingat betul tanggal 10. Teman-temannya pada sibuk pergi ke pasar membeli buku, baju sekolah, dan pensil. Hanya ia yang tidak peduli dengan kesibukan itu karena ia tahu tidak akan sekolah. Tetangganya, Anto bertanya, ”Kamu tidak daftar Di?” Ia menggeleng.
Tepat hari pertama sekolah, Anto terkejut melihat Budi hadir di sekolah lengkap dengan pakaian seragam.
”Kamu bohong, Di. Katanya kamu tidak sekolah.”
Itu pertama kalinya ia kenal dengan kata bohong. Ia tidak mampu menjelaskan kepada Anto kenapa ia bisa hadir di sekolah itu dan mengenakan seragam pula. Ia masih ingat, ketika itu dikatakannya kepada Anto, Mamaknya mengirimkan uang untuk biaya sekolahnya. Tapi Anto tetap mengatakan bahwa ia telah berbohong awalnya.
Di musim layangan, teman-temannya sibuk membuat layangan dari bambu dengan berbagai macam bentuk. Berbeda dengan yang lainnya, hanya ia tidak datang ke lapangan sekolah karena ia tidak suka bermain layangan. Namun, pada suatu siang, ia datang membawa layang-layang berbentuk kupu-kupu ke lapangan sekolah. Teman-temannya bilang, ”Katanya tidak mau main layangan.”
Sejak itu tidak ada orang yang percaya dengan omongannya. Di sekolah, ia lebih dikenal dengan nama Panduto. Lebih akrab dengan nama Pandu. ”Oh, Pandu,” begitu kata teman-temannya.
Bila teman-temannya bermain dadu atau gambar, Budi tidak pernah diajak. Berenang ke sungai juga tidak. Tapi Budi selalu datang sendiri.
Ia tidak pernah senang dengan panggilan Pandu yang diberikan teman-teman kepadanya. Ingin dijelaskannya kenapa ia tidak senang bermain layangan. Ia harus membantu ibunya ke sawah untuk menanam padi. Daripada teman-temannya kecewa, ia bilang saja tidak suka main layangan. Tapi, pada hari kedatangannya ke lapangan sekolah, ibunya menyuruh bahkan memaksa.
”Hari ini kamu tidak usah bantu ibu ke sawah. Main layanganlah dengan teman-temanmu,” begitu kata ibu.
”Tapi saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak suka main layangan. Saya bantu ibu saja di sawah.”
Ibu terus memaksa dan memberikannya sedikit uang untuk membeli layangan yang dijual di kedai Pak Amin. Ia terpaksa melakukannya.
Ada yang tidak bisa diterima teman-temannya, pada hari Jumat, sebelum mengaji di surau. Mereka bersama telah sepakat untuk tidak datang mengaji. Tos-tosan tanda kesepakatan. Hari itu, mereka akan main kelereng. Dari rumah masing-masing, semuanya tetap membawa kain sarung dan AlQuran. Di suatu lapangan yang jauh dari rumah, rencananya mereka akan berkumpul. Tidak lupa, dalam kesepakatan, semuanya harus membawa kelereng yang banyak. Siapa yang kalah mesti memberikan kelerengnya kepada temannya yang menang.
Pertama yang datang ke lapangan Soni. Ia duduk di rumput sambil menunggu kedatangan temannya yang lain. Datang Anto, Pardi, Ilham, Aldo, dan Gilang. Sebelum memulai permainan, mereka bercakap-cakap tentang hukuman yang akan diterima dari guru mengaji yang terkenal dengan hukuman berdiri dengan kaki sebelah itu.
”Kalau bersama tidak terasa hukuman itu,” kata Anto membuka suara.
”Biasa saja.”
”Atau, karena kita ramai-ramai, kita dikeluarkan mengaji,” Ilham sedikit takut.
”Mana mungkin Guru Bidin akan mengeluarkan kita mengaji. Dengan apa ia akan makan? Bukankah hanya ini pekerjaannya?” Gilang mematahkan pernyataan Ilham
Lama mereka berbincang, mereka ingat seorang temannya lagi, Budi.
”Pandu kemana? Kenapa ia belum datang?”
”Tunggu saja. Barangkali sebentar lagi ia akan datang.”
Setengah jam mereka menunggu, Budi tidak juga datang.
”Dasar Pandu. Ia pasti berbohong lagi. Kita mulai saja permainan,” ajak Aldo yang dari tadi hanya diam mendengarkan teman-temannya berbicara.
Keesokan harinya, ketika istirahat siang, Budi dikerumuni teman-temannya dan dibawa ke suatu tempat yang lengang.
”Kamu berbohong lagi.”
”Maaf,” kata Budi singkat.
Ia lalu bercerita tentang ibunya. Tidak ada niat untuk melanggar kesepakatan itu. Saya pun suka bermain kelereng. Tapi entah mengapa, ketika akan pergi mengaji, saya iba melihat ibu yang baru saja pulang dari sawah. Ia berkeringat dan jelas kelelahan seharian membanting tulang di sawah. ”Kamu tidak ke surau, Nak?” kata ibu. Saya tidak akan membohongi ibu, makanya saya pergi mengaji.
Teman-temannya melongo mendengar Budi bercerita. Tapi mereka tetap tidak terima karena nanti sore mereka semua akan dihukum berdiri dengan kaki sebelah di tepi sawah dekat surau sebelum bisa mengaji lagi. Yang paling ditakutkan, andai Guru Bidin melaporkan kepada orang tua masing-masing.
***
Ia pergi dari kampungnya setamat sekolah dasar. Membantu ibunya yang sudah semakin tua. Terlebih, ia tidak ingin dipanggil Pandu. Di tempatnya yang baru, ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah lagi berbohong, dalam keadaan apapun. Ia tidak akan banyak berbicara karena semakin banyak berkata-kata semakin banyak pula omongan itu yang tidak bisa dipertangungjawabkan.
Garis nasib membawanya kepada keberuntungan. Sifatnya yang luwes dalam bergaul mengantarkan ia berkenalan dengan Kusniadi, kepala instasi di bidang pendidikan. Ia dibawanya berkeja di kantornya sebagai tenaga honorer. Kusniadi bahkan menjanjikan suatu hari nanti ia akan menjadi pegawai tetap dan di SK-kan.
Sampai pada suatu hari ia mendengar kabar dari kampung, ibunya sakit keras. Ketika itu ia baru bekerja selama dua bulan. Ia lalu minta libur dan mengatakan alasannya kepada Kusniadi. Kusniadi mengizinkannya pulang dan memberikan waktu libur selama seminggu.
Belum sampai sebulan setelah ia kembali bekerja, ibunya kembali sakit. Kali ini lebih parah dari dua bulan yang lalu. Ditemuinya Kusniadi dengan alasan yang sama. Tapi jawaban Kusniadi tidak bisa diterimanya.
”Kamu berbohong. Dua bulan lalu kamu katakan ibu kamu sakit. Sekarang sakit lagi. Saya tidak percaya.”
”Benar, Pak. Kalau Bapak tidak percaya, silahkan ikut saya ke kampung.”
”Alasan kamu saja. Kalau kamu pulang, kamu tidak akan saya perbolehkan lagi masuk kantor.”
Ia tidak mendengarkan Kusniadi. Ia pulang ke kampung melihat ibunya yang sakit, walau tidak tahu lagi harus bekerja apa sekembali dari kampung.
Ibunya harus dirawat di rumah sakit, ia terserang tumor ganas dan harus dioperasi. Tapi ia tidak cukup punya uang untuk merawat ibunya di rumah sakit, apalagi untuk biaya operasi. Askes yang diurusnya di kantor Wali Nagari tidak dapat menanggung biaya operasi. Hanya cukup penyediaan tempat saja, itu pun di kamar yang tidak layak huni. Untunglah, seorang rentenir mau meminjamkannya uang sebesar sepuluh juta dan dibayar 20% bunganya. Ia tidak peduli asalkan ibunya sembuh.
Dokter berhasil mengangkat tumor ganas yang bersarang di kepala ibunya. Alangkah senangnya Budi, tapi ia harus berpikir lagi untuk menulasi hutangnya kepada rentenir yang dijanjikannya lima tahun dengan bunga hampir sama dengan yang dipinjam.
Ia pergi ke Pekanbaru. Di sana, banyak orang kampungnya yang bekerja. Kota itu begitu terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha. Kebanyakan orang-orang kampungnya yang merantau ke Pekanbaru menjadi kaya ketika pulang kampung waktu lebaran.
Ia diterima Soni di Pekanbaru. Soni berkerja sebagai pedagang mainan anak-anak. Memasuki pasar-pasar yang dihuni oleh orang-orang transmigrasi. Soni menggajinya cukup besar, untuk ukurannya. Lagi pula, laba yang diperoleh dari berdagang cukup besar. Di daerah transmigrasi, harga bisa dilambungkan daripada dijual di pasar Pekanbaru. Satu jenis pistol anak-anak yang dibeli dengan harga 15.000, bisa dijual di daerah transmigrasi tersebut 25.000. Mereka tidak protes karena memang tidak tahu harga dan jarang pergi ke kota. Lagi-lagi, ia bernasib mujur. Setelah uangnya banyak terkumpul, ia bisa berdagang sendiri.
Dagangannya tetap mainan anak-anak. Tapi, ia berdagang tidak seperti Soni. Soni menjual satu pistol anak-anak seharga 25.000 dengan modal 15.000, ia menjual 50.000. Entah berapa kali lipat dari modal yang ia beli. Bukan tanpa perkiraan, tapi ia percaya, ada orang-orang yang tetap akan membeli karena ia punya cara lain: berdagang dengan mulut.
”Pistol-pistolan ini saya dapatkan dari seorang anak pejabat di Pekanbaru. Tentu ibu tahu, mana ada pistol-pistolan anak orang kaya yang jelek? Ini tahan lama. Lebih penting, anak ibu punya mainan anak orang kaya.”
”Berapa harganya?”
”Lima puluh ribu saja, Bu.”
Ibu itu kaget dan sepertinya hendak beranjak dari situ.
”Tidak akan ibu temui di manapun pistol semacam ini. Lihat mereknya, Bu. Made in Amerika. Saya yakin, ini pistol dibeli di sana.”
Anaknya merengek dan menunjuk-nunjuk ke arah pistol-pistolan yang ditawarkan Budi.
Ia mampu meyakinkan ibu itu, dan ibu-ibu yang lain dengan caranya masing-masing. Berkat caranya berdagang, dalam waktu tiga tahun, ia mampu membayar hutangnya kepada rentenir di kampungnya. Bunganya, rencananya dalam tenggang waktu setahun lagi ia janjikan akan dibayar.
***
Budi mampu membayar hutangnya kepada rentenir tepat pada waktu yang ia janjikan. Ia kini telah mengirimkan uang belanja tiap bulan kepada ibunya di kampung. Membuatkan ibunya tempat tinggal yang layak dan mengembalikan sawahnya yang tergadai dulu.
”Pandu telah kaya sekarang,” kata orang-orang kampung.
”Saya yakin kerjanya menipu orang. Ia kan paling lihai dalam hal itu,” timpal warga yang sepertinya tidak senang dengan keberhasilan Budi.
Ia pulang ke kampungnya tiga hari menjelang lebaran. Warga kampungnya terkejut, Budi pulang tidak naik bus, tapi mobil sedan, untuk ukuran kampung sudah dianggap wah.
Di hari lebaran, ia menyumbang untuk pembangunan masjid sebanyak satu juta rupiah. Dari mikropon masjid diumumkan keras-keras. ”Bagi saudara-saudara yang balik dari rantau, silahkan sumbangkan jerih payah itu untuk pembangunan masjid kita yang masih terbengkalai. Bidin satu juta rupiah. Ayo, siapa lagi?”
Anto, temannya waktu SD datang ke rumahnya bersilaturrahmi. Ketika datang ke rumah Budi, ia telah lupa dengan Pandu. Yang ada di depannya sekarang adalah Budi, sahabatnya sewaktu SD dulu.
”Sudah kaya kau sekarang, Di. Apa pekerjaanmu?”
Ditatapnya sahabat lamanya itu. Dengan pasti dijawabnya,”Berbohong.”
Sumber : http://www.kolomkita.com
Rintik-rintik hujan mengiringi ketukan-ketukan yang diciptakan oleh penaku. Aku duduk termenung menatap ke arah radio butut yang dari tadi mengeluarkan suara samar-samar. Kemudian melirik ke arah cerpenku yang belum juga selesai. Memandangi kata-kata berbaris bagaikan semut itu membuatku mengantuk. Oleh karena itu, kuputuskan untuk beranjak dari kursiku untuk membuyarkan semua rasa kantuk itu. Kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri, menepuk bokongku yang terasa panas karena sudah berjam-jam duduk lalu berjalan ke dapur.
Aku membuat secangkir kopi dan sembari aku mengaduk bubuk kopi dan gula dalam air panas, kulayangkan pandanganku ke kamar kosong dan gelap yang beberapa bagiannya dikuasai oleh sarang laba-laba. Tidak ada seorang pun menghuni kamar ini. Hanyalah ayah yang sesekali masuk ke dalam. Sebelum aku kembali ke mejaku sambil membawa cangkir berisi kopi, mataku sempat mengerling ke arah televisi, VCD, dan loudspeaker-barang hasil jerih payah ibu. Sesampainya di depan meja, aku menengadah sebentar ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan kemudian duduk. Kutelusuri lagi cerpenku mulai dari awal sampai kata terakhir yang kutulis, bingung akan meneruskan ceritanya. Inspirasi berhenti karena rasa kantuk masih terus menyerangku meski telah meminum kopi. Beberapa kali aku menguap. Belum sempat aku meletakkan kepala di atas kedua lenganku yang saling bertopang di atas meja, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah sehingga rasa kantuk pun kembali buyar.
Aku beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu.
“Bapaknya ada, Dek?” tanya pria yang menurutku umurnya sudah sekitar 30-an itu sambil menyunggingkan senyuman.
“Bapak belum pulang. Mau ngapain ya, Pak?” aku berbalik tanya.
“Mau mengambil sepatu. Katanya kemarin kan datangnya malem-malem aja,” ucapnya sesuai dengan dugaanku.
“Yang mana?” tanyaku lagi sambil mepersilahkan masuk. Kemudian dia mengambil salah satu sepatu dari atas mesin jahit di sampingku.
“Rupanya belom siap, Dek!” keluhnya, “Nanti tolong dikasih tahu ya sama Bapak.”
Aku hanya mengangguk.
“Adek nggak malem taon baru-an?” dia bertanya kembali.
Aku hanya menggeleng.
“Masa sih?!” tanyanya seperti menggoda. “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…,” ledeknya sambil tersenyum genit.
Apa sih orang ini! Kataku dalam hati. Kemudian hanya bisa menyunggingkan senyuman yang sedikit pahit.
“Kalau begitu jangan lupa bilang ya kalau orang punya sepatu ini tadi datang,” ucapnya mengakhiri sembari keluar dari rumah. Aku pun turut mengikutinya. Dia men-starter motornya yang diparkirkan di depan rumah sambil menganggukkan kepala tanda permisi. Seraya aku melemparkan senyuman pada orang tersebut, pandanganku menerawang ke segala sisi jalan yang kosong-melompong, langit malam yang begitu gelap saat itu.
Kuletakkan tanganku pada gagang pintu, kudorong pintu itu dan kemudian menguncinya dengan menarik engsel pintu ke kiri. Setelah itu kembali duduk di depan mejaku. Aku mendongak ke kamar tempat dua adikku tertidur lelap. Karena mejaku berada tepat di samping kiri pintu kamar sehingga memudahkanku untuk memperhatikan mereka.
Mereka pasti lapar, pikirku. Tapi apa boleh buat, ayah tak kunjung pulang sampai jarum jam telah menunjuk ke angka sepuluh lewat. Kutatap adik laki-lakiku lebih dalam. Dia tertidur begitu lelap seakan semua dosa telah lepas dari dirinya. Setiap hembusan napas yang dia keluarkan terikut juga dosanya keluar dari raga. Seandainya dia selalu seperti ini, anganku. Seharian ini dia di rumah saja tidak seperti biasanya. Aku selalu bertanya mengapa dia tidak bisa berubah. Tetapi seraya pertanyaan itu sering muncul di benakku, aku sadar bahwa tidak mudah untuk hidup sebagai dirinya. Aku tahu bahwa dia berada di bawah tekanan. Jika dia tidak melakukannya, dia akan diancam oleh teman-temannya, sebaliknya jika dia melakukannya dia selalu disudutkan di rumah. Sementara harus diakui ayah pun tak memberi contoh yang baik. Memikirkan hal ini, aku pun teringat akan kata-kata orang tadi, “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…”
Sewaktu mendengar kalimat itu terucap dari bibir hitam itu, darah dalam jantungku seakan memuncrat ke seluruh organ tubuh lainnya, air mata juga ingin mengalir melintasi kulit berminyak ini.
Sebelum aku terhanyut dalam lautan ini, tiba-tiba ponselku berdering membuat aku kembali terapung ke atas permukaan. Kulihat nomor yang tidak kukenal di layar, kemudian dengan perlahan jempolku menekan tombol untuk menjawab panggilan masuk tersebut.
“Halo…,” jawabku.
“Di mana Bapak??” tanya seorang pria dari sana dengan logat Bataknya.
“Eee… Bapak belum pulang kerja.”
“Kok selalu dia nggak di rumah! Apa mau cari mati dia?!” tiba-tiba dia berkata dengan nada kasar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “Bilang sama bapak, kalau dia mau cara baik-baik jumpai ke tempatku!”. Ditutupnya telepon namun tidak kutanya siapa dia karena aku sudah tahu.
Setelah itu posel itu kuletakkan kembali di atas meja. Sebelumnya aku menyimpan nomor HP yang masuk tadi agar suatu saat aku tahu itu nomor siapa. Tidak mau aku terlalu mencerna kalimat-kalimat tajam tadi. Dia tak sepantasnya berkata seperti itu. Ingin sekali tadi aku mengatakan, “Tunggu saja Mama kembali dari kuburnya untuk membayar utang itu!”
Mereka semua tidak peduli dengan semua kesulitan yang kami hadapi. Apalagi sejak Ibu meninggal, mereka menjadi seperti pembantai yang haus darah. Senyuman mereka seketika hilang dari bibirnya. Wajah dingin seperi es beku tak teretakkan menguasai. Ah! Pusing sekali mengingat-ingat ekspresi wajah mereka, pikirku.
Aku mencoba mengacuhkan hal-hal itu. Kuambil buku pelajaranku dan kucoba-coba mengerjakan soal-soal yang tercetak di atas lembaran-lembaran putih itu. Seraya mengerjakan soal-soal yang masih sanggup otakku tafsirkan, senyumku terbit mengingat ujian semester beberapa minggu lalu dapat kuikuti walau administrasi di sekolah belum terlunaskan. Namun meski demikian, tetap saja administrasi sekolah yang belum terselesaikan itu terasa bagaikan kuk berat yang membuat pundak ini makin membungkuk. Terkadang terpikirkan untuk menjual barang-barang hasil jerih payah Ibu itu. Tetapi kalau itu dilakukan, rasa bersalah mungkin akan menutupi hati selamanya.
“Apapun yang terjadi, barang-barang yang telah jadi milik sendiri berusahalah mempertahankannya. Jangan pernah menjual apa yang telah dimiliki, itu bukan penyelesaian,” kalimat itu terngiang di telingaku. Sementara kalimat itu masih menetap, lantunan melodi dari radio yang tadinya mayor disikut oleh nada-nada minor. Aku berhenti mengerjakan soal-soal tadi. Otakku sudah tidak sanggup mengelola angka-angka itu. Oleh karena itu, kualihkan perhatianku pada cerpen yang belum kuselesaikan. Sebenarnya aku tidak tahu akan melanjutkan cerita ini karena cerpen ini menyangkut tentang kelanjutan kehidupanku. Ada konflik yang saling berseteru satu sama lain. Aku bingung apakah akan berakhir bahagia ataukah semuanya harus terperosok ke dalam jurang kekelaman.
Tanpa sadar pertanyaan yang terus menerawang di pikiran ini tiba-tiba pecah dan hilang begitu saja ketika muncul suara yang begitu menggelegar sampai-sampai dinding begitu juga aku bergetar. Itu adalah suara khas motor tua ayah. Kugerakkan bola mataku dan juga kepalaku ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas. Tubuhku berdiri sigap dan langsung beranjak dari tempatku menuju pintu. Tangan ini seperti dipenuhi tenaga yang meluap-luap, hati juga begitu senang akhirnya ayah pulang.
“Belum tidur kau, Boru?” tanya Ayah lembut dari atas motornya dengan sebuah kantongan plastik besar berwarna hitam di pegangannya. Aku juga melihat senyuman-senyuman hangat menyapaku. Mereka adalah teman-teman Ayah dan Ibu.
“Halo! Kami tadi sengaja kemari karena Bapak datang ke rumah. Kalian sudah makan?” kakek tua yang masih gagah itu menyapa.
“Belum…,” jawabku tersenyum sembari menghitung ada enam orang yang ternyata datang.
Rumah yang begitu sepi tadinya kini telah ramai. Adik-adikku yang tadinya tertidur pulas sekarang begitu asyik mengobrol dengan teman-temannya. Betapa bahagianya diri ini. Namun tak terasa satu jam berlalu, mereka pamitan pulang. Kami semua pun keluar dari rumah mengantar tamu kami sampai ke teras. Senyuman masih melekat di bibir mereka seraya mereka menghilang.
Ayah berdiri di sebelahku sekarang. Tercium olehku badannya mengeluarkan aroma nira yang difermentasikan atau yang dikenal dengan tuak. Tapi ya sudahlah, pikirku. Kemudian melayangkan pandangan ke langit yang bertabur percikan-percikan kembang api. Langit malam yang begitu gelap akhirnya dipenuhi warna. Semua kekhawatiran yang tadinya sempat menguasai pikiranku dipecahkan oleh senyuman-senyuman hangat itu dan pastinya Ayah yang telah pulang. Senyumku pun ikut mengembang seraya kalimat ini melintas di benakku: “Selama kita memilki kenangan, ‘kemarin’ itu ada. Selama kita memiliki harapan, ‘besok’ menunggu kita.” Ya, besok itu telah di genggamanku! Tidak usah pikirkan ending cerita ini seperti apa. Yang lalu memang masih tetap berada di hati, namun ‘besok’ itu memacuku untuk tetap bertahan agar aku dan semuanya tidak terperosok ke dalam jurang kekelaman.

Mc O Donnell muda selangkah lagi menuju kesuksesan. Ia sedang mengikuti kejuaraan olahraga basket. Di saat yg bersamaan muncul pacarnya, Scarlett dan menyatakan kalau dirinya hamil. Mc Donnel meninggalkan pertandingan yg sangat penting itu dan lebih memilih untuk menikahi pacarnya.
Belasan tahun kemudian ia hidup dalam keadaan kurang beruntung. Pernikahannya tengah berada di ambang perceraian dan kedua anaknya yg sudah remaja kurang menghargainya. Ia menyesali keputusan yg ia ambil dulu dan berharap untuk bisa kembali ke masa lalu.
Keinginanya itu menjadi nyata. Sebuah peristiwa aneh mengubahnya fisiknya yg sudah tua menjadi muda. Persis seperti saat ia berusia 17 tahun. Ia yakin tubuhnya bisa kembali ke keadaan normal kalau ia bisa mengulang pertandingan yg ia tinggalkan dan sesali. Ia pun meminta bantuan sahabat baiknya, Ned untuk bisa memasukkannya kembali ke sekolah dg berpura-pura menjadi ayahnya.
Setelah masuk ke sekolah ternyata ia mendapatkan kenyataan pahit tentang anak-anaknya. Anak laki-lakinya sering dijahili dan mendapat perlakuan kasar dari pacar kakaknya. Sehingga ia menyadari apa tujuaan sebenarnya dari keajaiban yg ia dapatkan.
Film ringan yg sangat menghibur. Apalagi melihat kelakuan Ned. Benar-benar rileks menonton film ini.
DOWNLOAD (450 MB)
ENGLISH SUBTITTLE
Belasan tahun kemudian ia hidup dalam keadaan kurang beruntung. Pernikahannya tengah berada di ambang perceraian dan kedua anaknya yg sudah remaja kurang menghargainya. Ia menyesali keputusan yg ia ambil dulu dan berharap untuk bisa kembali ke masa lalu.
Keinginanya itu menjadi nyata. Sebuah peristiwa aneh mengubahnya fisiknya yg sudah tua menjadi muda. Persis seperti saat ia berusia 17 tahun. Ia yakin tubuhnya bisa kembali ke keadaan normal kalau ia bisa mengulang pertandingan yg ia tinggalkan dan sesali. Ia pun meminta bantuan sahabat baiknya, Ned untuk bisa memasukkannya kembali ke sekolah dg berpura-pura menjadi ayahnya.
Setelah masuk ke sekolah ternyata ia mendapatkan kenyataan pahit tentang anak-anaknya. Anak laki-lakinya sering dijahili dan mendapat perlakuan kasar dari pacar kakaknya. Sehingga ia menyadari apa tujuaan sebenarnya dari keajaiban yg ia dapatkan.
Film ringan yg sangat menghibur. Apalagi melihat kelakuan Ned. Benar-benar rileks menonton film ini.
DOWNLOAD (450 MB)
ENGLISH SUBTITTLE


