
Menceritakan hari-hari Gilbert Grape (Johny Depp) menghadapi perayaan ulang tahun adiknya, Arnie Grape (Leonardo Dicaprio). Dalam kesehariannya Gilbert Grape bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toserba. Ia hidup dalam keluarga yang tak sempurna. Ia harus menjaga adiknya , Arnie (Leonardo Dicaprio) yang memiliki kelainan mental. Selain itu ia juga harus mengurus ibunya yang memiliki masalah obesitas. Sebelumnya ibunya adalah wanita yang sangat cantik dan normal. Namun sejak ayahnya meninggal bunuh diri, ibunya berubah menjadi pendiam, sensitif, dan memiliki ketergantungan terhadap makanan dan televisi. Berat badan ibunya yang terus bertambah kerap kali membuat Gilbert harus memperbaiki rumahnya tanpa sepengetahuan ibunya agar tak menyakiti perasaannya. Syukurlah Gilbert terbantu oleh 2 saudaranya perempuannya Amy dan Ellen meskipun ia mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan Ellen yang sering bertindak kasar terhadap Arnie.
Dalam soal cinta, Gilbert menjalin cinta terlarang dengan Betty Carver yang sudah memiliki suami, salah satu pelanggan toserba tempat ia bekerja. Kemudian muncul seorang gadis bernama becky dari kota lain. Becky adalah seorang gadis periang yang suka berpetualang. Ia datang bersama neneknya. Ia jatuh hati padanya. Perhatian terhadap adiknya, Arnie mulai teralihkan oleh kehadiran Beckie. Padahal adiknya terbilang hyper aktif. Tak jarang adiknya melakukan hal-hal yang berbahaya seprti menaiki menara atau pohon.
Sungguh menarik melihat kehidupan Gilbert Grape yang terjebak di antara keinginan dan kewajiban. Dalam film ini Gilbert digambarkan sebagai sosok yang tak sempurna sehingga film drama ini tidak memiliki kesan yang terlalu melankolis. Tidak disangka akting Leonardo Di Caprio begitu sempurna memerankan tokoh Arnie.
Cerita sempurna dari sebuah kehidupan yang tak sempurna.
Rating : 9/10
DOWNLOAD (IDWS)
Ket : Ubah extensi rar jadi avi
Lily duduk menepis di depan pintu rumahnya yang tertutup. Rumah sederhana berdinding anyaman bambu di tengah-tengah perkampungan kumuh yang kata Ibu berjarak tiga ratus meter dari stasiun. Depan rumah dipenuhi tumpukan kardus bekas yang tidak tertata rapi. Di sekitarnya masih banyak kardus lipat berserakan yang menambah kesan kumuh.“Prak…!” Suara bantingan itu terdengar lagi.
Lily menghitung, sudah lima botol yang dipecahkan Ibu. Entah botol kosong yang terkumpul di kamar Bapak atau botol yang masih berisi minuman laknat – itulah kata yang sering diucapkan Ibu sebagai sebutan minuman Bapak.
“Hentikan!” terdengar teriakan Bapak. “Kamu ini sudah gila ya?”
“Bapak yang gila,” Ibu berteriak lebih lantang. “Sudah berapa uang yang Bapak habiskan untuk membeli minuman haram ini.”
“Prak…!”
“Kalau Ibu berani pecahkan botol minuman Bapak sekali lagi… Bapak akan…”
“Bapak akan apa?” potong Ibu dengan nada emosi.
“Plak!”
Lily tersentak kaget. Lily tidak bisa pura-pura tuli hanya dengan menutupi telinga dengan kedua tangannya. Suara tamparan Bapak yang melayang di wajah Ibu tetap mengagetkannya. Lily takut terjadi apa-apa dengan Ibu. Kebiasaan Bapak yang suka main pukul setiap kali bertengkar dengan Ibu membuatnya khawatir. Tidak hanya Ibu, Lily yang masih duduk di kelas tiga SD juga sering dipukuli Bapak tanpa alasan yang jelas, kecuali bagi Bapak sendiri.
“Kenapa Bapak memukuli Lily?” Lily pernah melontarkan pertanyaan ini pada Bapak ketika sedang terbebas dari pengaruh alkohol.
“Karena Bapak sedang mabuk, Nduk,” itulah jawaban Bapak. Apa itu bisa disebut sebagai alasan yang jelas?
Berbeda dengan yang dilakukan Ibu hari ini. Ledakan amarahnya didasari alasan yang kuat. Lily tadi sempat mendengar kalau Bapak mengambil uang simpanan Ibu di bawah kasur untuk dibelikan tiga botol minuman keras. Bapak sungguh keterlaluan. Uang yang diambilnya itu merupakan hasil jerih payah Ibu dari mengumpulkan dan menjual kardus. Uang itu untuk keperluan makan sehari-hari dan biaya sekolah Lily. Ibu yang selama ini bekerja keras.
Awalnya, Bapak bekerja sebagai tukang becak. Tapi percuma, uang yang didapatkannya hanya untuk dibelikan minuman keras. Sebulan yang lalu, Bapak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Bapak terbaring di rumah sakit dan becaknya masuk bengkel. Bukannya bertobat, watak Bapak malah semakin kaku. Kerjanya uring-uringan sendiri dan mancaci-maki penabrak yang telah melarikan diri. Kata orang-orang, pengendara mobil yang menabrak Bapak diduga sedang mabuk, sama halnya dengan keadaan Bapak saat itu – Bapak juga sedang mabuk. Orang mabuk ditabrak pemabuk, peristiwa itu malah membuat Ibu semakin geram. Masalahnya, Ibu harus pinjam uang para tetangga untuk biaya rumah sakit. Dan, sampai sekarang Ibu masih dililit hutang, becak belum bisa diambil dari bengkel, uang sekolah Lily nunggak dua bulan, ditambah lagi uang simpanan Ibu malah diambil Bapak untuk dibelikan minuman laknat.
“Lily benci Bapak,” kata Lily pelan sambil menahan tangis. Sejak Bapak mengenal minuman keras, Lily tidak pernah menangkap sisi baik Bapak dari sudut pandang mana pun. Yang tertancap dalam benak hanyalah kebencian. Lily kasihan pada Ibu yang sering dipukuli Bapak, Lily juga kasihan pada Ibu yang bekerja keras sendirian mengumpulkan kardus dari toko ke toko dengan sepeda tuanya. Lily pernah membantu Ibu mencari uang. Sepulang sekolah Lily ikut anak-anak turun ke jalan untuk mengamen di perempatan lampu merah. Tapi setelah diketahui Ibu, Lily malah kena marah.
“Lily, dengarkan Ibu. Ibu tidak suka melihatmu mengamen di jalanan, Ibu masih mampu memberimu makan dan membiayai sekolahmu, Nduk. Tugasmu hanya belajar, ngerti!”
Lily hanya bisa mengangguk menuruti kemauan Ibu dengan berat hati.
Ah, hati Lily sedih mendengar pertengkaran Bapak dan Ibu belum juga padam. Sekarang suara tangis Ibu seakan-akan menggores luka hati Lily. Lily benar-benar tidak tega jika Ibu sampai menangis. Kenapa keadaan keluarga Lily tidak seperti keluarga Minni – anak orang kaya yang menjadi teman sekelas Lily. Apa Bapak dan Ibu tidak sayang pada Lily? Mereka tidak seperti orang tua Minni yang selalu menampakkan wajah lembut berbalut senyum. Lily yakin, mereka tidak pernah bertengkar apalagi sampai main pukul seperti Bapak.
Jujur, Lily iri pada keluarga Minni. Orang tuanya merayakan pesta ulang tahun Minni dan mengundang semua teman sekelas – termasuk Lily – menghadiri pesta di rumah mewahnya minggu kemarin. Pesta yang menyenangkan. Di setiap sudut ruangan terpasang balon dan pita warna-warni, tumpukan kado dari saudara dan teman-temannya, serta kue ulang tahun berbentuk istana dengan lilin warna merah berjumlah sembilan di atasnya.
Lily sungguh iri. Bukankah hari ini adalah tanggal kelahiran Lily? Bukankah sudah sepantasnya Lily berulang tahun seperti Minni? Tapi… apa ada orang yang mengetahuinya? Termasuk Bapak dan Ibuku sendiri, apakah mereka mengingatnya?
Lily menggeleng sendiri. Hei, sejak kapan Lily mempermasahkan hari ulang tahunnya? Apa tahun-tahun kemarin ada yang mengingatnya? Tidak ada kan? Apa semua ini karena Minni? Mungkin bukan. Rasa iri yang membuat Lily menginginkan pesta perayaan yang ramai, kado, kue dan lilin. Tapi apa itu mungkin? Hanya pesta berupa pertengkaran, kado berisi suara pecahan botol alkohol dan bayangan lezatnya kue yang membuatku lapar – dari tadi pagi perut Lily belum terisi sesuap nasi. Ah, kenapa Lily jadi rapuh begini?
Tiba-tiba Lily teringat kata Ibu, “Walaupun kita kita miskin harta Nduk, jangan sampai kita miskin hati. Maksud Ibu, kita harus senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki. Yakinlah Nduk kita tidak sendirian, ada harapan yang tidak pernah mati dalam hati kita. Kalau kamu anak yang baik dan berbakti pada orang tua, Tuhan akan mengabulkan harapan dan doamu.”
Lily pun mengangkat wajahnya yang masih sembab oleh air mata dan ditengadahkan kedua tangan kecilnya, “Ya Tuhan, apa Engkau mendengarku? Di hari ulang tahunku ini, Lily tidak lagi menginginkan lilin, pesta, kado dan kue. Maafkan Lily karena iri sama Minni. Maafkan Lily jika selama ini Lily jadi anak yang nakal sehingga Bapak sering memukuli Lily. Dan, satu hal lagi Tuhan, bisakah Engkau membuat Bapak dan Ibu tidak bertengkar lagi? Kumohon Tuhan, kabulkan doa Lily ya? Amin.”
Diambil dari kolomkita.com dipost oleh fikri_abdullah

Kehidupannya mulai hancur termasuk pertunangannya yg batal. Dalam masa sulitnya ini ia mendapatkan cinta sejatinya dari Dorothy yg membantunya dg tulus. Ia mendapat tentangan dari kakaknya Dorothy, Laurel (bonnie Hunt) yg menganggap Jerry sebagai pengangguran yg memanfa'atkan Dorothy dan memiliki masa depan yg tak jelas.
Harapan satu-satunya ia miliki adalah Rod Tidwell (Cuba Gooding Jr), seorang atlit football negro yg memiliki perangai buruk dan minim prestasi. Jerry harus berusaha mendapatkan kontrak untuk Rod Tidwell demi mengembalikan harga dirinya.
Rating : 8.5/10

"Even though I'm worse than even a beast"
"Don't I have the right to live?"
Akhirnya ia mengetahui dalang di balik semuanya adalah seorang pria bernama Woo-jin. Dae-Su dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu membalas dendam atau mencari tahu sebab kenapa ia disekap selama 15 tahun. Woo-Jin sendiri memberikan waktu kepada Dae-Su selama 5 hari untuk mencari tahu sendiri alasannya. Jika ia gagal maka Mi-Do akan dibunuh tapi jika ia berhasil maka Woo-Jin akan bunuh diri.
Saya sendiri cukup enjoy menonton film ini. Inti film ini tentang balas dendam. Film ini juga dibumbui aksi fighting dan memiliki ending yang twisted. saya sendiri menyukai film ini karena ada sedikit unsur kelam apalagi jika pada akhirnya mengetahui maksud dari film ini. Sangat recommended bagi yang suka film fighting disertai twisted ending.
Rating : 8/10
DOWNLOAD (IDWS)

How do you wake up from a nightmare, when you're not asleep?Trevor reznik adalah seorang mekanik mesin-mesin pabrik. Sudah setahun ia tidak tidur karena penyakit insomnia yang diderita. Tubuhnya semakin mengurus dan orang-orang di sekitarnya mulai mengkhawatirkan keadaannya.
Kehidupannya berjalan normal sampai ia bertemu dengan Ivan. Pekerja pabrik yag misterius. Setelah lama bekerja di Pabrik, Trevor baru melihat pria tersebut. Sejak bertemu Ivan, serangkaian peristiwa janggal menimpa dirinya. Dimulai dengan kecelakaan yang dialami rekan kerjanya dan secara kebetulan dirinya menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Sehingga ia dimusuhi teman-temannya.
Ia curiga bahwa Ivan ada kaitannya dengan serangkaian peristiwa yang dialaminya. Ia pun yakin ada sebuah konspirasi terhadap dirinya dalam perusahaan tempatnya bekerja. semakin ia mencari tahu semakin hancur kehidupannya.
Salut buat Christian Bale bukan hanya berakting dengan sempurna tapi mampu menguruskan badannya sampai terlihat seperti mayat hidup. saya ngeri melihatnya tulang matanya smpai terlihat dan tidak memakai visual efek. calon legenda aktor masa depan.
Film thriller terbaik yang pernah saya tonton sampai saat ini. Alurnya sederhana dan sangat rapih membuat saya mengira bahwa ending film ini mudah ditebak. Alangkah senangnya ketika tebakan saya selalu salah. Dari awal sampai akhir sangat terasa tensi film ini. Inilah pertama kalinya dalam hidup saya, saya menetapkan Over Rated untuk sebuah film. Best thriller ending I've ever seen. Film yang sangat sempurna.
Rating 11/10
DOWNLOAD (IDWS)
Subtittle

Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Aku juga heran, kenapa kali ini aku terkesima. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu, lebih karena bau parfumnya. Dari jarak dua meter tempat aku duduk, parfumnya—entah merek apa—tercium. Sangat wangi. Kunikmati wewangian itu agak lama. Sedikit kupejamkan mata. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri.
Naluriku tersentak. Sejak itu aku ingin beli parfum. Merek apa saja, asalkan wangi. Pikirku, bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. Ya, badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya.
Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. Biasanya, sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini. Toh, orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi, Rusni, Rinto, dan Rini. Bau badan mereka, termasuk juga aku, tak ada yang bisa membedakannya. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. Kami tak pernah menghiraukannya. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Aku pikir, wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. Untuk itulah, parfum bukan menjadi kebutuhan pokok.
Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. Ah, bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya!
Tapi, memang ada yang berbeda dari parfum. Itu yang baru saja kukenali. Pikiranku sedikit keliru. Pelajaran itu kudapat dari Satria.
“Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri.”
Tak mahal harga untuk sebuah parfum. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. Tujuh ribu rupiah, harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. Pikirku, setiap yang wangi adalah parfum). Kupilih aroma terapi. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan, cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman.
***
Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. Lima kali semprot, dari ketiak sampai buah baju, rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. Setidaknya, bau amis berganti menjadi aroma terapi.
“Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain.”
Setiap senyum kuanggap kasiat parfum.
Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. Dari ujung ke ujung. Dari tatal ke tatal. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. Rasanya, dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi.
Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. Pertama kalinya, Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. Ia jadi pahlawan sekarang. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. “Senyummu indah Kus.”
Auraku sedikit bertambah. Senyumku lebih mengembang. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum, parfum, oh, kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian?
Wajar saja Bidin jadi Walikota. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. Dibeli di Jerman atau Amerika. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayan-swalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. Diolah sendiri. Katanya, kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis?
Tak apalah. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura.
“Rambutmu rapi, Kus.”
Tiga orang yang berpapasan, mengeluarkan pujiannya. Tapi sayang, mereka tidak berkata, “Bau keringatmu berbeda hari ini.” Oh, aku baru saja tersentak. Parfum ini telah menular ke rambut, wajah, dan senyumku.
Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto.
Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan. Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. Bau badan bukan kodrat, tapi kebutuhan.
“Celanamu baru, Kus.”
Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni, yang baru saja menyapa, bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. Luar biasa, parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Wewangian ini begitu sempurna. Semua yang lusuh kelihatan baru; rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi; dan senyum yang kusam menjadi mengembang. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya!
Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. Semakin menakjubkan. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu.
Bahkan Suci, seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. ”Kau begitu berbeda hari ini, Kus. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Apalagi melihat senyum Suci. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. Lagi-lagi parfum ini mempesona.
Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. Walau belum tentu nyata. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Aku menikmatinya. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk.
“Sepatumu bagus, Kus. Kapan kamu beli?”
Apalagi ini? Hey, ini jelas tidak benar. Benar-benar tidak bisa diterima. Kelewatan. Nalarku berjalan. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru, perlu diragukan otak yang sedang dibawanya.
Tapi, astaga, setelah berpapasan dengan Rudi, semua orang bilang sepatuku baru. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. Tentu ia tidak sedang bercanda, apalagi berdusta. Hipotesis ini benar-benar membingungkan.
Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Gawatnya, tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai!
Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Pelbagai keanehan muncul. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini, tapi tidak dengan sepatu.
***
Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Semua yang ada, jelas nyata, berlawanan dilihat, meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. Aku mulai curiga pada parfum ini. Isinya masih banyak, jika aku pakai, dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan.
Setiap senyum kuanggap kasiat parfum.
Aku teringat Satria. Semua benda yang menggantung di leher, terpakai di badan, dan diletakkan di dekat kaki, adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum, bagaimana orang melihat baju, senyum, dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. Sepatu lusuh saja terlihat baru. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum.
Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Menghabiskan uang dengan hal, bila dibandingkan dengan kaum duafa, tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya.
Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting, setidaknya untuk mengurangi bau amis. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun, bau yang busuk tetap akan tercium.”
Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. Di lain hal, keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. Tapi, ah, aku bingung dengan kata makna.
“Dari mana saja kau, Kus?”
Ini keterlaluan. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. Aku tak pernah kemana-mana. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. “Kau jelas mengada-ada, Rinto.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini.
“Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya.
Oh, bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini. Satu di tempat penuh kebohongan, satu lagi di lingkungan akademis. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. Rinto melihatku di pasar, juga di sini. Aku tidak akan terima ini.
“Aku selalu di sini Rinto, tidak ke mana-mana. Mari kita mulai saja diskusi ini.”
Parfum ini harus segera dibumi hanguskan. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing.
Sampai sekarang, sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi, tidak pernah ada yang bilang, “Bau keringatmu berbeda hari ini.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. Rasanya tidak berlebihan, karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. Setidaknya, tidak lagi bau keringat.
Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. Ketika kutanyakan pada Rini, ia hanya bilang, “Kau tetap bau keringat, Kus.” Tidak ada yang berubah, tetap bau keringat dan amis.
“Yang berubah pada dirimu adalah, kau serba baru sekarang. Celana, baju, sepatu, dan senyummu begitu indah, Kus.”
Tak ada lagi ampun, parfum itu mesti dibuang. Kalau bisa, dikembalikan lagi ke swalayan. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura, yang seharusnya digunakan untuk makan siang, tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut!
Oh, ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?***
RuangSempit, 2008/2

Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Seperti malam ini.
Kadang mereka tidak tahu waktu. Malam belumlah terlalu larut. Lampu di kamarku masih menyala. Aku belum tidur. Sedang mengerjakan PR. Seperti menguji kepekaan telingaku, mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Dulu, aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan.
Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan, jernih tanpa gangguan, saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Menggelitik gendang telingaku, mengganggu konsentrasiku belajar. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. Tak satu pun soal bisa kujawab. Aku menyerah. Kutindih buku tulis dengan pena. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik.
Kawan, akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana.
***
Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Sebisa mungkin tanpa bunyi, tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara, meski kecil. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. Walau begitu aku tetap harus hati-hati.
Kutarik napas sejenak. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang.
Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik.
Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut, khawatir aku kesetrum. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba, yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. Kecuali ruang tamu, beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon, termasuk kamarku dan kamar Ibu.
Sekarang aku berada di atas kamar. Sering tanpa bisa kucegah, serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. Agak berisik. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini, jadi aku aman.
Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar, terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran, penopang atap rumah. Ada juga balok yang melintang dan membujur, membentuk kerangka atap. Rumah ini beratap seng.
Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. Di bawah sana sendu yang temaram. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah, tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang, menimbulkan gelap yang terlihat.
Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah, seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu, terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak, mirip tripleks. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. Kuhirup bau pengap, udara agak panas, membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. Mungkin sebentar lagi hujan.
Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan, dan itu sangat mengganggu. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi.
Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku, kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. Tapi aku tak peduli. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Kukoyak sarang laba-laba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja.
Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok, aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Lubang hidungku kemasukan debu. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk, supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. Dulu, aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari.
Sekarang aku telah tiba di tujuan. Lantaran bayanganku terlihat memanjang, aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Akan kuceritakan, Kawan. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit, yang tak semestinya kualami. Dulu.
***
Malam itu aku pulang larut malam. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman, dia punya mainan baru, video game. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja, pagi-pagi benar baru pulang. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. Tapi aku tetap mau pulang. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Anehnya, Ibu tidak mencariku. Akhirnya aku pulang sendiri. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat, kami bertetangga sebelah rumah. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Pondasinya telah dibangun.
Aku lewat belakang, mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. Istirahat sebentar di serambi. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan, tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Dan apa yang aku saksikan, belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Mereka seperti bayi raksasa.
Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. Aku ingin marah entah kepada siapa. Aku kembali ke rumah tetanggaku. Mulutku terkatup rapat, tenggorokanku tersumbat. Aku hanya mematung, menunduk hampir menangis. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk, merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya.
Aku berbaring gelisah. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. Adegan itu masih terbayang, mencabut rasa kantuk. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. Karena tak lama, tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. Kurasakan napasnya memburu. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Tubuhku bergetar menahan debar. Leherku terasa kering seperti dihisap. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. Sakit, perih. Aku menggigit kain bantal. Perasaanku belum sembuh waktu itu, tapi aku harus merasakan lagi luka, yang mungkin tidak ada obatnya.
Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. Padahal, aku sedang dibekuk tak berdaya, sampai kakak temanku itu habis tenaga. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. Mendengkur, nyenyak sekali. Peluhnya masih tertinggal di badanku. Sementara aku tergugu, gigiku saling beradu, bergemelutuk bagai menahan gigil. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku, berharap bisa menghilangkan nyeri. Ini rahasiaku. Akan kusimpan baik-baik. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang.
Begitulah, Kawan. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini, jadi kuceritakan saja padamu. Namun itu hanyalah awal.
***
Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. Satu-satu kemudian menderas. Mengguyur kelamnya malam. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. Aku merasa basah. Andaikan aku di bawah ranjang, mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Terkadang mengejan seperti orang buang air. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas.
Bapak lain lagi. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Meraung serupa singa yang terluka. Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalan-jalan mampir ke rumah temannya. Tapi sore itu mengubah segalanya.
Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak, hampir lepas dari engselnya, hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam, tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam, dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. Matanya merah. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke mana-mana. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar.
Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Menyingkirkan dengan kaki, ember berisi cucian menjauh darinya. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Dia menarikku berlutut di hadapannya. Mengajariku merokok di pangkal paha. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah, mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. Setelah itu dia mengancamku. Aku takut sekali. Dia melarangku bilang-bilang!
***
“Awas kamu Anto!”
Kawan, aku ketahuan. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. Yang jelas mereka tetap melanjutkan, tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat, tadi aku berada di atas sana.
Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku, membawa perasaan cemas. Di luar, hujan makin turun deras. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku, menjaga keseimbangan. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku, kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku.
Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah, hendak turun. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. Terpaksa aku harus terjun, melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. Tubuhku terhempas dalam. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. Menolak badanku seperti mendorong ke atas.
Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. Telentang membuat perutku kembang-kempis. Kuatur napas biar berirama kembali. Aku gerah sekali. Lekas aku beringsut dari pembaringan, mengganti pakaian. Kuacak-acak rambutku, debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan.
Pintu kamar Ibu terbuka. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Memeluk bantal erat-erat. Posisiku seperti udang, tulang belakang melengkung. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. Aku merinding menahan kencing. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Suara gelas terisi air, diteguk dan diletakkan kembali. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas, tanpa jejak.
Doakan aku, Kawan. Terima kasih! Doamu terkabul.
Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan.
Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. Keluar dari kamar, Ibu sudah menghadang dan bertanya, “Kapan kamu libur?”
Aku tidak menjawab, hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah, sementara Ibu bosan menunggu.
“Baiklah, hari pertama kamu libur nanti, kita langsung ke rumah Pak Mantri. Kamu sudah kelas satu SMP. Astaga, kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!”
Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang.
Depok, Januari- Juni 2008

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:
"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"
Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”
“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.
"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut
pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif,
salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.
Sumber : bunga cerita blogspot.com
Originally posted at : milis air putih

Padahal saat itu raja sudah lelah, ia ingin segera beristirahat dari tahtanya. Akhirnya sang raja memutuskan untuk memilih salah satu dari anak muda di kerajaan untuk meneruskan tahtanya.
Raja segera mengeluarkan pengumuman kepada seluruh pemuda di kerajaannya untuk berkumpul di halaman istana untuk dipilih menjadi raja. Sekonyong-konyong ratusan anak muda langsung berkumpul di halaman istana tersebut. Tak terkecuali Ali, pemuda itu juga turut berdiri berdesak-desakan diantara pemuda lain untuk mengikuti kompetisi itu.
“Aku akan memilih salah satu dari kalian untuk menjadi penggantiku !”. Raja berseru.
“Tetapi sebelumnya, aku akan menilai kalian semua, aku akan membagi kepada kalian satu buah biji per orang.”
“Aku ingin kalian menanam dan merawat biji itu selama satu tahun, dan bawalah kembali padaku, aku ingin tahu apa yang dapat kalian tumbuhkan dari biji itu.” Raja melanjutkan.
“Hanya mereka yang mampu menumbuhkan tanaman terbaiklah yang akan aku pilih sebagai raja.”
Setelah berkata demikian, para punggawa kerajaan segera membagi-bagikan biji itu kesemua pemuda yang hadir. Ali juga mendapat satu buah biji, dan segera pulang untuk menanam biji itu.
Ali berkata dengan bangga pada ibunya bahwa ia telah turut serta dalam kompetisi itu, dan ibunya pun juga terlihat sangat menyetujui keputusan anaknya itu. Ali lalu mengambil sebuah pot yang tidak terpakai di belakang rumah, memberinya tanah tersubur, lalu membenamkan biji itu ke dalamnya.
Tiap hari, Ali dan ibunya menyirami pot itu. beberapa minggu kemudian Ali pergi ke rumah teman-temannya untuk melihat biji yang ditanam oleh mereka. Ali melihat biji milik teman-temannya mulai tumbuh, bahkan ada yang sudah mengeluarkan beberapa lembar daun. Berbeda dengan biji milik Ali, biji itu belum tumbuh sama sekali, walaupun sudah ditanam selama 2 minggu.
Dua bulan telah berlalu, dan keadaan di pot milik Ali tidak berubah. Biji itu belum tumbuh sama sekali. Tetapi Ali tidak menyerah, ia tetap merawat pot itu dengan menyiraminya tiap hari. Teman-teman Ali pun mulai mengetahui hal tersebut, dan mereka mulai mentertawakan Ali.
Akhirnya satu tahun pun berlalu. Seluruh pemuda yang mengikuti kompetisi itu pun datang beramai-ramai ke halaman istana. Mereka masing-masing membawa tanaman di dalam pot. Sangat indah dan subur tanaman-tanaman mereka, bahkan beberapa diantaranya telah berbunga.
Tetapi berbeda dengan milik Ali, potnya tidak berubah. Tidak ada apapun yang tumbuh di pot itu. Ali pun mulai putus asa, dan mengambil keputusan untuk tidak kembali menghadap raja.
“Jangan begitu nak.” Kata ibunya, “Kamu sudah berniat mengikuti kompetisi itu, sudah selayaknya kamu juga menyelesaikannya, tidak masalah jika pot itu masih kosong, toh raja juga tidak akan menghukum kamu kok.”
Dengan berbagai bujuk rayu dari ibunya, akhirnya Ali bersedia membawa pot yang cuma berisi tanah itu menghadap raja.
Di sepanjang jalan, para pemuda mentertawainya. Tetapi Ali mencoba cuek ‘n jalan terus.
Akhirnya, ratusan pemuda itu semua telah berkumpul di halaman istana. Raja segera turun dari singgasananya dan mencoba memeriksa pot-pot yang dibawa pemuda itu satu per satu. Raja itu berjalan hilir mudik di antara pot-pot yang dipegang oleh para pemuda itu beberapa kali, seolah-olah sedang mencari sesuatu.
Akhirnya raja berdiri tepat di hadapan Ali. Ali gemetaran, karena dia memang belum pernah berhadapan dengan raja sebelumnya.
“Siapa namamu? dan ada apa dengan potmu, kenapa tidak ada tanamannya sama sekali?” Tanya sang raja.
“Maaf baginda.” Ali menjawab, “Nama saya Ali. Hamba sudah berusaha, tetapi kenyataannya memang begini, bibit ini tidak mau tumbuh sama sekali, padahal saya sudah menyiraminya tiap hari.” Para pemuda di sekitarnya saling tertawa cekikikan mendengar jawaban Ali.
“Kalo begitu, kamu maju ke depan dengan saya!” Perintah sang raja. Sambil ketakutan karena khawatir dihukum, Ali maju ke depan beriringan dengan sang raja. Para pemuda sekitarnya masih tertawa cekikikan melihat wajah Ali yang pucat bagai mayat.
“Aku umumkan kepada kalian semua..” Raja berseru di depan ratusan pemuda itu. “Aku umumkan bahwa mulai besok pagi, seorang pemuda - yang bernama Ali - yang saat ini berdiri disampingku - akan menggantikan kedudukanku menjadi Raja!”
Semua pemuda itu heran, terutama Ali sendiri, ia kaget setengah mati mendengar keputusan sang raja.
“Kalian tahu kenapa?” Raja melanjutkan, “Satu tahun yang lalu aku sebenarnya hanya memberi sebuah biji mandul kepada masing-masing kalian. Semua biji itu sudah dipotong bakal tunasnya oleh seorang pengawalku, sehingga tidak mungkin dapat tumbuh menjadi sebatang pohon. Sehingga saya menarik kesimpulan, bahwa apa yang kalian bawa ke hadapanku itu bukanlah tanaman yang tumbuh dari biji yang aku berikan. Kalian semua telah menukarnya dengan biji lain agar bisa tumbuh.”
“Kecuali dengan anak muda ini.” Raja berkata dengan tersenyum bangga. “Ali telah berani jujur padaku, ia berani mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi, sekalipun ia tahu betul bahwa itu akan sangat memalukan.”
“Orang jujur seperti inilah yang aku butuhkan untuk melanjutkan cita-citaku untuk membangun kerajaan ini …”
sumber : http://cerita.gravis-design.com/
Original posted :
(Sumber: sebuah cerita dari timur jauh yang termuat di buku “About Leadership” oleh Kyoto M, author unknown)

Dulu aku berpikir, jika aku dapat memiliki dan menikah dengan ‘dia’ ; kita akan hidup bahagia. Tetapi tahukah, bahwa setelah aku menikah dengan dia, masalah mulai muncul. Apalagi saat anak pertama lahir. Banyak masalah yang terjadi: ego, ambisi, semuanya campur aduk menjadi satu.
Saat anak-anak kami sudah remaja, masalah baru muncul kembali. Anak lelakiku yang bungsu lulus dari SMU, dan kami butuh uang banyak untuk membiayai dia untuk masuk universitas. Belum lagi anakku yang perempuan, dia harus segera membayar biaya wisuda yang cukup besar agar dapat gelar sarjana.
Saya juga sering berpikir, jika suamiku (yang dulu ganteng dan diidolakan banyak wanita) kaya raya, tentunya aku tidak perlu pusing-pusing bekerja part time untuk memenuhi kebutuhan keluargaku.. dan semua masalah ini tentu tidak akan terjadi.
Saya selalu kesulitan mencerna semua kejadian itu.. seolah-olah kebahagiaan tidak pernah hadir dalam hidupku. Hingga ‘titik’ waktu itu datang dan membuka mata dan hatiku.
Sekarang saya sadar… bahwa bahagia adalah sekarang! bukan saat aku punya ini atau itu… bukan pula saat aku bisa ini atau itu.
Kebahagiaan adalah jalan! kebahagiaan justru adalah proses menuju kesejerahteraan (dan kekayaan)! jika aku tidak bahagia saat ini juga, kelak apapun yang aku miliki tidak akan membawa kebahagiaan padaku.
Sebab hidup terus berputar, hidup selalu penuh tantangan. Setiap masalah yang berakhir, akan memunculkan masalah yang lain.. lalu bagaimana menyelesaikan masalah itu? dengan berbahagia dan bersyukur !
Ya!.. saya mulai mengetahui kunci itu! kebahagiaan adalah sebuah alat ! kebahagiaan bukan tujuan hidup, tetapi ’sarana’ untuk menempuh tujuan itu. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dicari.. tetapi dibangkitkan dari dalam hati. Sedangkan apapun yang kita capai, lebih pantas disebut sebagai ‘kesenangan’… yup, yaitu ‘kebahagiaan yang sesaat’.
So… jangan tunggu hingga lulus kuliah, jangan tunggu bisa jadi pacar dia, jangan tunggu jadi kaya, jangan tunggu jadi direktur… sebab anda bisa bahagia sekarang juga.. nikmati dan iklaskan apa yang kamu alami saat ini. Bersyukurlah atas apa yang sudah kamu miliki dan yang belum kamu miliki…
(disadur dari “Dance Like No One’s Watching” oleh Crystal Boyd, 1997)
Sumber : cerita.gravis-design.com

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan porsi besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis dari porselin, plastic, gelas kristal, gelas biasa, beberapa di antaranya gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah, dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.
Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan: "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."
Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus, bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain. Sekarang perhatikan hal ini: hati kita bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi adalah cangkirnya. Sering kali karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.
Catatan: Kehidupan yang sesungguhnya adalah hati anda. Apakah anda merasa bahagia dan damai? Apakah anda mencintai dan dicintai oleh keluarga, saudara dan teman-teman anda? Apakah anda tidak berpikir buruk tentang orang lain dan tidak gampang marah? Apakah anda sabar, murah hati, bersukacita karena kebenaran, sopan dan tidak egois?
Hanya hati anda dan Tuhan yang tahu. Namun bila anda ingin menikmati kopi dan bukan cangkirnya, hal-hal yang tidak semarak ini harus lebih mengendalikan anda ketimbang hal-hal semarak seperti pekerjaan, uang dan posisi anda!
Originally posted by Nawainruk @ Forum IDWS

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma
masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah
engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana
dengan malu-malu “Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan
duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan
beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah” “Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku
dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona
mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb?
Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku
kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke
rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu
sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu
dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat
masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu
pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

Tujuan permainan mereka adalah menulis kata "shmily"? di tempat yang secara tak terduga akan ditemukan oleh yang lain. Mereka bergantian menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah. Begitu yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali lagi mendapat giliran menulis kata itu? di tempat tersembunyi.
Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh siapapun yang mendapat giliran menyiapkan makanan. Mereka membuatnya dengan embun yang menempel pada jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang hangat, buatannya sendiri.
"Shmily" dituliskan pada uap yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang mandi air panas; kata itu akan muncul berulang - ulang setiap kali ada yang selesai mandi. Nenekku bahkan pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di ujung gulungan itu.
"Shmily" bisa muncul di mana saja. Pesan-pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa bisa ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada kemudi. Catatan-catatan kecil itu? diselipkan ke dalam sepatu atau diletakkan di bawah bantal. "Shmily" digoreskan pada lapisan debu di atas penutup perapian atau pada timbunan abu di perapian.
Di rumah kakek nenekku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu? yang penting, sama? pentingnya dengan perabotan. Aku memerlukan waktu yang lama sekali sebelum benar-benar bisa memahami dan menghargai permainan kakek-nenekku. Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada - cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka. Meski begitu, aku tak pernah meragukan hubungan kakek-nenekku.
Mereka sungguh saling mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang
mereka tunjukkan; cinta adalah cara pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan pada pengabdian dan kasih yang tulus, yang tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya.
Kakek dan nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan. Mereka
berciuman sekilas bila bertabrakan didapur mereka yang mungil. Mereka saling menyelesaikan
kalimat pasangannya.
Setiap hari mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan acak kata. Nenekku
membisikkan kepadaku bahwa kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin tua kakek semakin
tampan. Menurut nenek, dia tahu "bagaimana membuat kakek bahagia."? Sebelum makan mereka selalu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka.
Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam: nenekku menderita kanker payudara.
Penyakit itu pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya. Seperti yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenek menjalani setiap tahap pengobatan. Dia menghibur Nenek di kamar kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna itu agar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah.
Sekali lagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku yang kukuh, mereka tetap pergi kegereja setiap pagi. Tetapi nenekku dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, dia tak bisa lagi keluar rumah. Kakek pergi ke gereja sendirian, berdoa agar Tuhan menjaga istrinya. Sampai pada suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal.
"Shmily" Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada pita-pita merah jambu yang menghias buket
bunga duka untuk nenekku. Setelah para pelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi nenek untuk terakhir kali. Kakek melangkah mendekati peti mati Kakekku lalu, dengan suara bergetar, dia menyanyi untuk nenek.
Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan, lagu ninabobo dalam alunan suara
yang dalam dan parau. Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah melupakan saat itu.
Karena pada saat itulah, meskipun aku belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku mendapat kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.
S-h-m-i-l-y: See How Much I Love You
Lihat, betapa aku mencintaimu!
Terima kasih, kakek dan nenek, karena telah mengizinkan aku melihatnya.
Laura Jeanne Allen
Diambil dari e book Lerning for Live uploaded by Isyvic @ IDWS

Kecurigaan Sister Aloysis kian menguat dan berubah menjadi obsesi tersendiri. Tapi sebaliknya Sister James mulai ragu akan firasatnya setelah mengenal lebih jauh kepribadian pendeta Flyn. Sister Aloysis tetap bersikeras bahwa pendeta Flyn bersalah dan menganggap ia termasuk ia orang yg sangat pintar menyembunyikan perbuatannya. Hal ini menjadi tekanan batin sendiri bagi Sister James yg low profil.
Cerita berkembang menjadi konflik psikologi di antara mereka. Perang dingin terjadi antara sister Aloysis yg perfeksionis, galak dan ketat terhadap peraturan dg pendeta Flyn yg kharismatik dan disenangi para murid. Benarkah Pendeta Flyn melakukan hal nista tersebut atau hanyalah prasangka buruk sister Aloysis ? Teka-teki akan selalu menjadi line up setiap dialog dan cerita film ini.
Inti film ini sebenarnya sederhana tapi pembawaan suasana dan akting dari para pemain menjadi kekuatan film ini. Cocok bagi para penonton dg tensi drama yg cukup tinggi. Karakter dari para pemain sangat kuat. Tipe film-film festival.
Rating : 7.5/10
DOWNLOAD (IDWS)
SUBTITTLE

Suatu hari mereka dikejar oleh orang yg mereka curi uangnya. Untunglah mereka ditolong oleh seorang Vampire bernama Kei (Hideto Takarai). Kemudian akhirnya mereka berteman.
Menginjak dewasa Sho (Gackt) menjadi seorang perampok, shinji menjadi seorang pecandu dan Toshi menjadi pengantar makanan. Tak ada yg berubah dari Kei (Hyde L Arc En Ciel) karena ia seorang vampire. Dalam aksinya, Sho merampok kelompok gang dan mafia. Ia dibantu oleh Kei (Hyde) saat menghadapi para gangster dan mafia dan Toshi hanya sebagai peran pembantu. Sho mendapatkan uang dari merampok dan Kei mendapat darah segar dari target perampokan. Sedangkan Shinji tidak ikut bagian dalam aksi mereka. Peran Shinji dalam cerita ini tidaklah begitu berarti. Shinji hanyalah seorang pecandu yg selalu hidup bergantung pada adiknya dan tidak mempedulikan apa pun. Ia selalu hidup menyendiri dan terpisah dari mereka.
Dalam suatu perampokan secara kebetulan mereka terbantu oleh seorang pria Taiwan bernama Son (Lee Hom Wang). Ia bermaksud untuk balas dendam karena adiknya telah diperkosa oleh sekelompok gangster yg akan Sho dkk rampok. Son sangat berterima kasih dan dengan cepat mereka menjadi teman akrab. Di sinilah berawal cinta segitiga antara Sho (Gackt), adik son yg bernama Yi-che (Zeny Kwok), dan Kei (Hyde).
Suatu peristiwa menyebabkan Toshi salah seorang teman mereka tewas terbunuh dan Kei tiba2 pergi menghilang. Hal tersebut membuat segalanya berubah termasuk pertemanan mereka.
Beberapa tahun berikutnya sejak peristiwa tersebut, semuanya terlihat berbeda. Sho menjadi ketua mafia. Ia menikah dg Yi-Che dan dikaruniai seorang anak. Sedangkan Son menjadi anggota mafia Taiwan yg berseberangan dg Sho. Yi-Che dalam keadaan yg sangat sulit karena 2 orang yg ia sangat sayangi saling bermusuhan.
Beberapa anggota mafia Taiwan membunuh orang2 Sho termasuk kakaknya. Sho marah dan berniat untuk membalas dendam. Lama tak terdengar kabar, Sho baru mengetahui kalau Kei menjadi tahanan yg akan segera dieksekusi mati. Sho segera menemui Kei dan mengajaknya untuk membantunya untuk membalas dendam. Kei lebih memilih menjalani hukumannya karena ia sudah bosan menjadi vampir yg hidup dg menghisap darah orang lain. Tapi Kei masih memiliki keinginan untuk mengembalikan persahabatan mereka.
Penasaran nonton film ini karena ada hyde L Arc en Ciel, salah satu personil band favorite saya. Film ini dibintangi oleh dua orang idol Jepang yg sangat terkenal Hyde dan gackt. Gak mungkin kalau para pecinta musik jepang gak kenal sama 2 orang ini. Filmnya menurut saya cukup menarik cocok bagi orang2 yg suka film dg tema gangster atau mafia. Salut juga buat perfilman Cina hingga bisa membuat jepang terinspirasi membuat membuat film ini. Cuman bete aja ngeliat aksi tembak2an yg terlalu berlebihan seperti di film Wanted. Film ini berjalan sangat cepat jadi jangan coba2 menskip film ini. Tapi endingnya terbilang indah meski bukan happy ending.
Bukan film yg sangat hebat tapi layak untuk ditonton sebagai hiburan tanpa harus banyak berpikir.
Rating : 8/10
DOWNLOAD (idws)

Tom Ripley (Mat Dammon) adalah pemuda miskin yg misterius. Pekerjaannya tidak jelas tapi ia memliki banyak bakat di bidang akting dan musik. suatu hari ia mendapatkan pekerjaan yg aneh dari seorang konglomerat, Herbert Greenleaf (James Rebhorn) untuk membujuk anaknya , Dickie Greenleaf (Jude Law) yg ada di italy supaya pulang ke Rumah. Ripley menerima tawaran tersebut dan segera berangkat ke Italy.
Di Italy Ripley bertemu dg Dickie (Jude Law) dan pacarnya , Merge Sherwood (Gwynet Paltrow). Usaha untuk membujuk Dickie supaya pulang ternyata gagal. Walaupun begitu, Ripley menjadi teman mereka dan menjadi akrab dalam waktu singkat. Malah ia bergabung dg Band Jazz Dickie dan menjadi vokalisnya.
Seperti pertemanan pada umumnya, terjadi pertengkaran antara Ripley dan Dickie saat mereka berdua sedang berlayar menggunakan perahu kecil. Pertengkaran segera berubah menjadi perkelahian yg menyebabkan dickie
terbunuh.
Rating :9.5/10

Originally posted by dinluvcr @ cerpen.net
