Follow Me

Doa Lily



By  dr.MKV     16.26    Label: 
Lily duduk menepis di depan pintu rumahnya yang tertutup. Rumah sederhana berdinding anyaman bambu di tengah-tengah perkampungan kumuh yang kata Ibu berjarak tiga ratus meter dari stasiun. Depan rumah dipenuhi tumpukan kardus bekas yang tidak tertata rapi. Di sekitarnya masih banyak kardus lipat berserakan yang menambah kesan kumuh.
Lily masih terduduk, kedua tangannya menutupi telinga, kepalanya menunduk menyembunyikan bibir yang bergetar dan mata berair. Lily merapatkan kedua tangannya seraya menggelengkan kepala saat terdengar suara bantingan barang pecah belah dari dalam rumah. Lily hapal betul suara pecahan itu adalah botol minuman keras milik Bapak yang dibanting Ibu.
“Prak…!” Suara bantingan itu terdengar lagi.

Lily menghitung, sudah lima botol yang dipecahkan Ibu. Entah botol kosong yang terkumpul di kamar Bapak atau botol yang masih berisi minuman laknat – itulah kata yang sering diucapkan Ibu sebagai sebutan minuman Bapak.
“Hentikan!” terdengar teriakan Bapak. “Kamu ini sudah gila ya?”
“Bapak yang gila,” Ibu berteriak lebih lantang. “Sudah berapa uang yang Bapak habiskan untuk membeli minuman haram ini.”
“Prak…!”
“Kalau Ibu berani pecahkan botol minuman Bapak sekali lagi… Bapak akan…”
“Bapak akan apa?” potong Ibu dengan nada emosi.
“Plak!”
Lily tersentak kaget. Lily tidak bisa pura-pura tuli hanya dengan menutupi telinga dengan kedua tangannya. Suara tamparan Bapak yang melayang di wajah Ibu tetap mengagetkannya. Lily takut terjadi apa-apa dengan Ibu. Kebiasaan Bapak yang suka main pukul setiap kali bertengkar dengan Ibu membuatnya khawatir. Tidak hanya Ibu, Lily yang masih duduk di kelas tiga SD juga sering dipukuli Bapak tanpa alasan yang jelas, kecuali bagi Bapak sendiri.
“Kenapa Bapak memukuli Lily?” Lily pernah melontarkan pertanyaan ini pada Bapak ketika sedang terbebas dari pengaruh alkohol.
“Karena Bapak sedang mabuk, Nduk,” itulah jawaban Bapak. Apa itu bisa disebut sebagai alasan yang jelas?
Berbeda dengan yang dilakukan Ibu hari ini. Ledakan amarahnya didasari alasan yang kuat. Lily tadi sempat mendengar kalau Bapak mengambil uang simpanan Ibu di bawah kasur untuk dibelikan tiga botol minuman keras. Bapak sungguh keterlaluan. Uang yang diambilnya itu merupakan hasil jerih payah Ibu dari mengumpulkan dan menjual kardus. Uang itu untuk keperluan makan sehari-hari dan biaya sekolah Lily. Ibu yang selama ini bekerja keras.
Awalnya, Bapak bekerja sebagai tukang becak. Tapi percuma, uang yang didapatkannya hanya untuk dibelikan minuman keras. Sebulan yang lalu, Bapak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Bapak terbaring di rumah sakit dan becaknya masuk bengkel. Bukannya bertobat, watak Bapak malah semakin kaku. Kerjanya uring-uringan sendiri dan mancaci-maki penabrak yang telah melarikan diri. Kata orang-orang, pengendara mobil yang menabrak Bapak diduga sedang mabuk, sama halnya dengan keadaan Bapak saat itu – Bapak juga sedang mabuk. Orang mabuk ditabrak pemabuk, peristiwa itu malah membuat Ibu semakin geram. Masalahnya, Ibu harus pinjam uang para tetangga untuk biaya rumah sakit. Dan, sampai sekarang Ibu masih dililit hutang, becak belum bisa diambil dari bengkel, uang sekolah Lily nunggak dua bulan, ditambah lagi uang simpanan Ibu malah diambil Bapak untuk dibelikan minuman laknat.
“Lily benci Bapak,” kata Lily pelan sambil menahan tangis. Sejak Bapak mengenal minuman keras, Lily tidak pernah menangkap sisi baik Bapak dari sudut pandang mana pun. Yang tertancap dalam benak hanyalah kebencian. Lily kasihan pada Ibu yang sering dipukuli Bapak, Lily juga kasihan pada Ibu yang bekerja keras sendirian mengumpulkan kardus dari toko ke toko dengan sepeda tuanya. Lily pernah membantu Ibu mencari uang. Sepulang sekolah Lily ikut anak-anak turun ke jalan untuk mengamen di perempatan lampu merah. Tapi setelah diketahui Ibu, Lily malah kena marah.
“Lily, dengarkan Ibu. Ibu tidak suka melihatmu mengamen di jalanan, Ibu masih mampu memberimu makan dan membiayai sekolahmu, Nduk. Tugasmu hanya belajar, ngerti!”
Lily hanya bisa mengangguk menuruti kemauan Ibu dengan berat hati.
Ah, hati Lily sedih mendengar pertengkaran Bapak dan Ibu belum juga padam. Sekarang suara tangis Ibu seakan-akan menggores luka hati Lily. Lily benar-benar tidak tega jika Ibu sampai menangis. Kenapa keadaan keluarga Lily tidak seperti keluarga Minni – anak orang kaya yang menjadi teman sekelas Lily. Apa Bapak dan Ibu tidak sayang pada Lily? Mereka tidak seperti orang tua Minni yang selalu menampakkan wajah lembut berbalut senyum. Lily yakin, mereka tidak pernah bertengkar apalagi sampai main pukul seperti Bapak.
Jujur, Lily iri pada keluarga Minni. Orang tuanya merayakan pesta ulang tahun Minni dan mengundang semua teman sekelas – termasuk Lily – menghadiri pesta di rumah mewahnya minggu kemarin. Pesta yang menyenangkan. Di setiap sudut ruangan terpasang balon dan pita warna-warni, tumpukan kado dari saudara dan teman-temannya, serta kue ulang tahun berbentuk istana dengan lilin warna merah berjumlah sembilan di atasnya.
Lily sungguh iri. Bukankah hari ini adalah tanggal kelahiran Lily? Bukankah sudah sepantasnya Lily berulang tahun seperti Minni? Tapi… apa ada orang yang mengetahuinya? Termasuk Bapak dan Ibuku sendiri, apakah mereka mengingatnya?
Lily menggeleng sendiri. Hei, sejak kapan Lily mempermasahkan hari ulang tahunnya? Apa tahun-tahun kemarin ada yang mengingatnya? Tidak ada kan? Apa semua ini karena Minni? Mungkin bukan. Rasa iri yang membuat Lily menginginkan pesta perayaan yang ramai, kado, kue dan lilin. Tapi apa itu mungkin? Hanya pesta berupa pertengkaran, kado berisi suara pecahan botol alkohol dan bayangan lezatnya kue yang membuatku lapar – dari tadi pagi perut Lily belum terisi sesuap nasi. Ah, kenapa Lily jadi rapuh begini?
Tiba-tiba Lily teringat kata Ibu, “Walaupun kita kita miskin harta Nduk, jangan sampai kita miskin hati. Maksud Ibu, kita harus senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki. Yakinlah Nduk kita tidak sendirian, ada harapan yang tidak pernah mati dalam hati kita. Kalau kamu anak yang baik dan berbakti pada orang tua, Tuhan akan mengabulkan harapan dan doamu.”
Lily pun mengangkat wajahnya yang masih sembab oleh air mata dan ditengadahkan kedua tangan kecilnya, “Ya Tuhan, apa Engkau mendengarku? Di hari ulang tahunku ini, Lily tidak lagi menginginkan lilin, pesta, kado dan kue. Maafkan Lily karena iri sama Minni. Maafkan Lily jika selama ini Lily jadi anak yang nakal sehingga Bapak sering memukuli Lily. Dan, satu hal lagi Tuhan, bisakah Engkau membuat Bapak dan Ibu tidak bertengkar lagi? Kumohon Tuhan, kabulkan doa Lily ya? Amin.”


Diambil dari kolomkita.com dipost oleh fikri_abdullah

Tentang dr.MKV

Java Programmer sekaligus pecinta film berbagai genre yang kurang pinter nulis tapi maksa bikin blog. Pengembang game dan aplikasi android dengan nama prabudroid
Check this cool game





1 komentar:


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Translate