Follow Me





Dikisahkan sepasang suami istri petani mengalami keretakan rumah tangga karena pihak ke-3. Si suami berselingkuh dg seorang wanita yg berpenampilan lebih modern. Kehadiran pihak ke-3 bukan hanya merusak keharmonisan rumah tangga akan tetapi merusak hidup pula kehidupan si suami. Si suami lebih banyak melamun dan menghabiskan waktunya bersama selingkuhan serta memiliki banyak hutang. Pada puncaknya selingkuhannya menghasut sang suami untuk membunuh istrinya serta menjual tanahnya untuk kemudian pindah ke kota bersama selingkuhannya. Si suami yg sedang dimabuk cinta berhasil dihasut oleh selingkuhannya meski dalam hati kecilnya ia masih mencintai istrinya.

Dibuatlah rencana sedemikian rupa untuk membunuh istrinya. Sang istri begitu senang ketika suaminya mengajaknya untuk pergi berlibur dg perahu padahal suaminya berniat menceburkan istrinya dan membuatnya tampak seperti kecelakaan. Tiba waktunya si suami untuk membunuhnya. Si istri yg mencium gelagak yg tidak baik dari suaminya hanya bisa menangis memohon ampun. Si suami segera membatalkan niatnya dan sadar bahwa ia masih mencintai suaminya.

Sang istri mengambil kesempatan untuk kabur di tengah kegalauan hati suaminya. Si suami mengejar istrinya. Pengejaran berakhir di sebuah kereta yg membawa mereka menuju kota. Dg segala daya dan upaya sang suami mencoba untuk meyakinkan istrinya kalau ia masih menyayangi dirinya.

Kereta menghantarkan mereka sampai di sebuah kota. Di kota ini cinta mereka bersemi kembali. Mereka menyadari kalau mereka masih saling mencintai. Tanpa direncanakan kota menjadi tempat berlibur layaknya bulan madu pengantin baru. Meski tak dapat dipungkiri bahwa mereka berdua berasal desa. Rasa canggung dan kikuk menjadikan kota sebagai tempat baru yg membawa petualangan yg lucu, unik, sekaligus mengharukan. Simak saja kejadian mengharukan saat mereka menyaksikan prosesi pernikahan atau kejadian lucu saat mereka mengambil foto berdua. Mereka begitu menikmati setiap momen yg mereka lewati. Semua begitu indah dan menyenangkan. Apakah hidup akan selalu seperti itu? Nasib memang tidak tidak dapat ditebak. Menjalani nasib seperti mengarungi sebuah perahu di perairan yg luas, mereka tidak tahu kapan badai datang dan berakhir.

Takjub sekaligus tercengang dg cerita yg disajikan dalam film ini. Dari cerita yg begitu thrilling berubah menjadi romantis kemudian menjadi komedi. Kemudian berubah lagi dan berubah lagi. Meski mengandung unsur thriller dan komedi bukan berarti film ini adalah film dark comedy. Dan bukan pula termasuk film aneh yg membutuhkan pemahaman lebih dalam. Film ini adalah sebuah film dg cerita yg luar biasa yg mampu berubah secara dinamis dan begitu realistis. Hebatnya film ini masih belum menampilkan suara manusia. Dialog berupa teks juga sangat jarang ditemui dalam film ini. Namun dapat dg sukses dan efektif dapat mendeksripsikan alur cerita secara jelas. Sampai saat ini film ini menjadi film paling jadul dan terbaik yg pernah saya tonton.


My rate : 10/10



DOWNLOAD
Menceritakan tentang seorang pria terbelakang mental bernama Arthur yg bertingkah layaknya seorang superhero. Ia menyebut dirinya "The Defendor". Dg kostum dan peralatan sederhana ia memerangi para penjahat di jalanan. Di suatu aksinya ia babak belur oleh sekawanan penjahat. Beruntung ia ditolong oleh Kat, pelacur yg juga seorang pecandu narkoba. Kat memberikan informasi tentang para penjahat tersebut padhal ia memanfaatkan keluguan Arthur untuk menguras uangnya. Mereka mulai dekat dan menjadi teman baik. Para penjahat yg pada mulanya menganggap Defendor sebagai sebuah lelucon akhirnya gerah juga dg aksi konyolnya dan berniat untuk membunuhnya.

Akhirnya setelah sekian lama bisa tertawa kembali setelah menonton film ini. Apalagi saat sang penjahat memberikan surat ancaman kepada Arthur kelihatan banget dodolnya sang superhero. Tanpa scene plesetan super hero lainnya, film ini berhasil menjadi film komedi yg berkualitas dg cerita yg luar biasa. Drama komedi yg klise, mengharukan dan memberikan pesan moral yg sangat baik.

My Rate: 8/10
Losers are people who are so afraid of not winning, they don't even try



Oliver Hoover, bocah gemuk yg memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti kontes kecantikan anak2 yg bertajuk "Little Miss Sunshine". Ia berangkat bersama ibunya dan seluruh anggota keluarganya. Perjalanan panjang dari Albuquerque menuju California serta keuangan keluarga yg dalam keadaan krisis membuat mereka berangkat dg menggunakan mobil tua daripada naik pesawat untuk menghemat pengeluaran.

Dalam perjalanan masalah kerap muncul dari masing2 tokoh terlebih setiap anggota keluarga memiliki karakteristik yg sangat kontradiktif. Sang ibu, sheryl Hoover adalah seorang perokok berat. Ayahnya, Richard hoover seorang motivator tetapi selalu menunjukan sikap sentimen dan sarkasme terutama terhadap adik iparnya. Dalam kehidupan nyatanya Richard kurang sukses meski ia selalu merendahkan orang lain. Pamannya (adik ibunya), Frank Ginsberg seorang homoseksual yg baru saja selamat dari usaha bunuh dirinya. Kakaknya, Dwayne sangat pendiam dan sudah beberapa bulan tidak bicara karena ia membenci semua anggota keluarganya. Kakeknya, Edwin hoover seorang pengguna narkoba. Di antara semua anggota keluarganya, Kakeknya yg paling dekat dan selalu memotivasi dirinya.

Perjalanan menuju California mereka lalui dg tawa, tangis dan suasana penuh haru. Film yg mengajarkan betapa pentingnya arti keluarga.

"Little Miss Sunshine" bisa jadi merupakan salah satu drama keluarga yg menggunakan elemen negatif untuk memberikan pengaruh positif bagi penontonnya. Mungkin bagi yg menyukai film sejenis "Pay it Forward" akan menyukai film ini juga. Meski film ini bertema keluarga tapi masih terbatas untuk tontonan orang dewasa. Dialognya enak untuk diikuti dan scoringnya sangat pas. saya suka pas openingnya dapet banget feelnya. scene favorite saat Oliver memesan Ice Cream.


Rate : 8.5/10



DOWNLOAD




Di saat semua orang sudah tertidur Angela dan seorang kameraman, Pablo melakukan meliput kegiatan para pemadam kebakaran untuk sebuah acara televisi. Sebuah alarm memanggil mereka untuk menuju sebuah apartemen. Setibanya di apartemen mereka bertemu dg 2 orang polisi yg sudah datang dan beberapa penghuni yg berkumpul di bawah tangga karena mendengar sebuah jeritan dari salah satu kamar. kedua polisi dan petugas kebakaran diikuti oleh angela dan kameramannya pergi menuju kamar tersebut. Mereka menemukan seorang wanita tua dg darah di sekujur tubuhnya sedang berdiri. Tiba2 wanita tersebut menyerang mereka. Insiden tersebut berhasil di amankan.

Salah seorang polisi terluka parah. Lehernya digigit oleh wanita tersebut. Masih belum jelas apa yg menyebabkan wanita tua tersebut menyerang mereka, Apartemen tersebut tiba2 disegel dan diblok oleh pihak pemerintah hingga mereka tidak diijinkan untuk keluar aparteman. Bingung dan panik menyelimuti mereka terlebih belakangan diketahui bahwa mereka sedang berhadapan dg zombie. Kamera menjadi saksi bisu kengerian yg harus mereka hadapi. Sanggupkah mereka bertahan?

Setelah "Dawn Of the Dead" akhirnya muncul juga film bertema zombie yg kengerian dan ketegangannya paling nampol. Bedanya "Rec" menggunakan gaya dokumenter. Baru kali ini nonton film zombie bisa sampai merinding terutama zombie terakhir.

Rate : 9/10



DOWNLOAD



Sebuah panggung hiburan yg bernama "Imaginarium Dr parnassus" masih menunjukan eksistensinya di tengah gemerlap budaya modern. Panggung ini digerakkan oleh sebuah kelompok kecil beranggotakan 4 orang antara lain Dr Parnassus sendiri sebagai pemimpin , Valentina putri Dr parnassus, Anton, dan Percy sahabat setia Dr Parnassus. Keistimewaan dari panggung hiburan tersebut yaitu panggung hiburan tersebut menawarkan sebuah perjalanan penuh fantasi menuju dunia cermin yg sulit dijelaskan oleh akal sehat. Namun dunia cermin memiliki sisi gelap. Orang yg masuk ke dunia cermin akan merasakan pengalaman yg luar biasa indah tetapi apabila orang tersebut salah mengambil keputusan maka orang tersebut akan terjebak selamanya dalam dunia cermin. Di sinilah tugas para anggota kelompok Dr. parnassus untuk membimbing pengunjung cermin supaya keluar dari dunia cermin. Sayangnya orang2 yg menyaksikan pertunjukkan tersebut, umumnya tidak mengerti dan tidak percaya dg apa yg ditawarkan oleh kelompok Dr. Parnassus. Hingga panggung tersebut lebih sering diabaikan.

Dalam masa sulit itu datang Mr Nick, setan yg memiliki sosok manusia. Ia menagih hutang atas perjanjiannya dg Dr. parnassus di masa lalu. Hutang tersebut harus dibayar dg jiwa putrinya. Namun, Mr Nick menawarkan kesepakatan baru. Mr Nick menantang Dr parnassus untuk mengumpulkan 5 jiwa dalam 3 hari sebagai ganti jiwa Valentina, puterinya.

Mau tidak mau Dr. Parnassus menerima tawaran tersebut demi mempertahankan puterinya. Di saat yg sama, valentina menemukan seorang pria tergantung di jembatan. Kemudian mereka menolong pria tersebut. Ternyata pria tersebut masih hidup. Setelah sadar pria tersebut mengaku kehilangan ingatannya. Melalui kemampuan yg dimiliki oleh Dr parnassus diketahui bahwa pria tersebut bernama Tony (Heath Ledger) namun masih belum jelas dg asal-usulnya. Kemunculan Tony sudah dapat ia ramalkan sebelumnya namun ia tidak tahu apa maksud dari ramalannya tersebut.

kedatangan Mr Nick dan kemunculan Tony dalam waktu yg sama memberikan kecurigaan tersendiri bagi Dr parnassus. Tapi saat ini ia harus fokus untuk mempertahankan puterinya.

Kehadiran Tony sedikit membantu kelompok Dr Parnassus. Meski Tony tidak memiliki kemampuan sulap seperti Anton namun ia lebih atraktif dari Anton. Ia lebih pandai mencuri perhatian para pengunjung datipada Tony. Tony mengubah pertunjukan menjadi lebih modern. Valentina mulai menyukai Tony tentu saja hal ini membuat cemburu Anton yg sekian lama mencintai valentina. Intrik, romansa, perjuangan, dan harapan menyatu dalam aliran cerita fantasi. Dapatkah Dr. Parnassus mempertahankan puterinya dan bagaimana akhir kisah cinta antara Valentina, Tony dan Anton ?


Sempat meragukan film ini karena beberapa orang mengatakan kurang bagus dan beberapa mengatakan bagus. Setelah saya menonton film ini, saya lebih cenderung mengatakan kalau film ini bagus bahkan lebih menikmati saat menonton untuk kedua kalinya. Kendati sang aktor utama telah wafat tak menghambat laju cerita ini menuju klimaks yg luar biasa. Sang sutradara pun tidak perlu mengganti Heath ledger di awal cerita dan mengulang produksi film. Kehadiran Johny Depp, jude Law, dan Collin Farrel untuk mengantikan Heath ledger sebagai Tony malah memperkuat karakter Tony itu sendiri. Mungkin sebagian orang akan kurang menyukai film ini karena film ini tidak bukan kisah epic fantasy seperti harry potter ataupun Lord Of The Ring. Cerita yg unik menjadi jantung utama film ini. Dan saya pun jatuh hati untuk memfavoritkan film ini.


Rate : 9/10



DOWNLOAD LOKAL
DOWNLOAD MEDIAFIRE



Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia
-Plato-

Rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota itu, benar-benar membuat siapa saja yang lewat akan menutup telinganya. Bising. Seperti dipenuhi oleh ribuan manusia yang terperangkap dalam sebuah bola kaca.

“Dokter Susilo, ada pasien baru di ruang tiga, seorang polisi menemukannya di sebuah jalan kemarin,”lapor seorang suster.

“Iya, tunggu sebentar.”

Pasien itu, punya mata yang indah, coklat, seperti blasteran Arab Indonesia. Tapi, sayangnya, pandangan matanya, lurus ke depan, tanpa emosi dan ekspresi. Dokter Susilo yang baru saja melihatnya merasakan sebuah kehampaan di sana. Sebuah perenungan yang panjang akan hidup, sebuah perjalanan panjang yang membuat hidupnya sampai di rumah sakit ini. Kedua tangan pasien tersebut diborgol dan diikat dengan rantai di dua buah tiang.

“Hati-hati Dokter, kemarin dia baru saja membunuh sahabatnya sendiri,” kata perawat berwajah datar itu, mengingatkan.

Tapi, dokter yang baru terangkat itu, merasakan kalau, bagaimana mungkin wajah datar tanpa ekspresi itu, bagaimana mungkin wajah cantik dengan mata indah itu, bagaimana mungkin jari-jari lentik yang kelihatan lemah itu, bisa membunuh orang.

“Hasil diagnosa penyakitnya menyatakan kalau dia ternyata penderita kelainan jiwa kepribadian ganda, gelombang otaknya jauh dari normal. Dia punya dua kepribadian,” terang sang perawat.

Malam itu, di tengah dinginnya suasana rumah sakit, pasien no. 83 itu, meneteskan air mata, sayup-sayup di dengarnya suara televisi. Ada dua orang penjaga malam yang sedang menonton berita.

“Wah….. gila…… programer jenius yang bisa buat firewall paling aman itu, ditemukan tewas bunuh diri,” teriak seorang penjaga malam kepada temannya yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

“Ah….. kamu jangan teriak-teriak dong, aku kan di dekatmu, telingaku mau pecah,” protes teman si penjaga malam.

Malam berlalu seperti biasanya, seperti kebanyakan malam yang telah lalu. Seperti malam yang telah dilewatkan beribu manusia. Sayup-sayup terdegar suara tangisan di ruangan tiga. Awalnya hanya sayup-sayup, hingga akhirnya…..

“AKHhhhhhhhhhhhhhhhh………………….”

Pasien no.83 berteriak histeris, dokter dan perawat datang berlarian menghampiri, tapi, saat mereka tiba di sana, yang mereka temukan bukan teriakan dan wajah ketakutan, tapi di sana, di wajah itu, yang ada adalah sebuah senyuman, bukan seringai. Dan mata coklat itu terpejam. Dia tidur.

***

“Ma, aku berangkat dulu ya!!!!”

“Iya, hati-hati, setelah sekolah, langsung pulang ke rumah ya, jangan mampir di rumah teman lagi,” sahut sang ibu.

“Iya…iya…”

Pintu dibuka, lalu tertutup lagi, sayup-sayup terdengar suara televisi.

Pemuda yang baru-baru ini menjadi programer sebuah firewall yang diyakini merupakan sistem pertahanan keamanan komputer yang paling aman, ditemukan tewas bunuh diri di apartemennya. Diduga programer berbakat itu, telah tewas lima jam yang lalu. Pihak kepolisian berusaha menghubungi pihak keluarganya, tapi ternyata, programer berbakat itu sebatang kara. Sekian, sekilas info hari ini.

“Pak, Dani kok belum pulang, ya? Bukannnya anak kuliahan sudah libur ?” tanya sang istri.

“Tunggu saja sampai sebentar sore, mungkin saja dia mau bikin surprise buat kita.”

“Tidak masalah kapan dia pulang, Cuma aku khawatir saja, sama berita di TV itu, banyak orang yang tewas bunuh diri. Lagipula, si Dani kan jurusan teknik komputer juga, kan Pak.”

“Hus…. sembarangan, jangan berprasangka yang tidak-tidak !!!”

Kemudian pintu terbuka, seorang pemuda seusia anak kuliahan masuk.

“Ma.. Pa… Dani pulang!” teriak anak itu.

“Tuh, kan. Apa aku bilang, dia udah pulang,” sergah sang suami.

“Iya.”

***

Dear Diary,
Namaku WD. Bacanya Widi. Tapi kalau ditulis, cuma WD. Namaku cuma itu. Cuma dua huruf. Ayah yang memberiku nama seperti itu, karena katanya,
Dua itu keraguan
Perpecahan,
Perselisihan,
Pertikaian
Dua adalah buah kembar pada ranting
Manis dan pahit.
Maknanya memang jelek. Aku tidak tau kenapa ayah memberiku nama seperti itu. Tapi, tak apalah. Itu hanyalah sebuah nama. Apalah arti sebuah nama?. Aku punya keluarga yang sangat bahagia. Kakak laki-lakiku, ayah, dan ibuku. Ayah adalah seorang keturunan Arab, dan Ibu orang Indonesia asli. Dalam kata lain, aku dan kakakku adalah blasteran Arab Indonesia. Mata kami indah, karena berwarna coklat. Kami bahagia sekali, meskipun Ayah sangat fanatik terhadap idealismenya. Boleh dikata, kami adalah keluarga yang sempurna. Ayah adalah seorang direktur sebuah perusahaan, Kakak sudah mahasiswa tingkat empat, dan Ibu selalu mengurus kami di rumah. Semuanya sempurna. Aku masih SMA. Masa yang paling indah. Aku terkenal di sekolah. Penuh dengan segudang prestasi, ya, semuanya sempurna. Keluarga, sekolah, semuanya kudapatkan. Tapi, ada yang masih kurang dariku, aku selalu bertanya untuk apa sebenarnya kita hidup? Dan pertanyaan itu, menyiksaku setiap hari. Semakin hari, semakin menyiksa. Dan aku semakin merasa ada yang kurang dalam hidupku, meski semuanya sempurna. Aku sangat sayang Ayah. Dia punya banyak idealisme tentang kehidupan yang selalu dia ajarkan padaku. Tapi, tetap saja aku tidak mengerti. Karena semua hanya teori, yang dia ajarkan padaku hanya teori, semuanya tidak nyata. Ah, sudahlah. Sudah larut malam, tanganku lelah mengetik. Semua persendianku kaku. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Ada banyak kegiatan di sekolah, dan aku tidak pernah punya waktu untuk bernafas sesaat. Pulangnya, aku sebel kepada semua orang rumah, aku sebel pada Kakak, yang pulang tanpa memberitahuku. Aku sebel pada Ayah, yang belum juga mengabulkan keinginanku untuk membeli notebook. Aku sebel pada Ibu, yang masakannya selalu kurang asin. Aku sebel pada semuanya. Pokoknya, aku ingin hidup yang sempurna. Dan semuanya masih kurang bagiku. Semuanya masih punya banyak kekurangan. Aku selalu menuntut kesempurnaan. Aku selalu menuntut kesempurnaan, segalannya harus sempurna,
Aku harus jadi yang terbaik,
Aku harus dapat nilai yang sempurna,
Aku harus mendapatkan sahabat yang sempurna,
Aku harus mendapatkan semua yang kuinginkan,
ALL OF THING MUST BE PERFECT…………
Karena aku ingin mendapatkan semuanya sempurna, aku selalu tidak punya teman. Karena aku ingin sahabat yang sempurna, aku selalu menuntut orang yang dekat denganku, untuk jadi seperti yang aku inginkan. Aku tidak pernah merasa puas dengan apa yang aku punya, karena aku ingin sesuatu yang lebih.
Aku ingin semuanya berubah menjadi seperti yang aku mau.

***

Hari ini, Kakak pergi entah ke mana lagi. Dia memang selalu menghilang kalau pulang dari kuliah. Pergi dengan teman-temannya. Katanya belajar. Yang ada di ruang keluarga, hanya Ayah. Sedang nonton TV.

“WD, duduk sini Nak !”perintah Ayah.

WD duduk di sampingnya, sejenak suasana ruangan itu, sunyi sepi. Dua pasang mata itu, hanya menatap layar kaca. Tak ada suara. Yang ada hanyalah suara si pembawa berita, sedang membawakan berita.

“WD, kalau Ayah nggak ada lagi, kamu mau apa?”

“Maksud Ayah?”

“Misalnya, kalo suatu saat Ayah meninggal, kamu akan bagaimana?”

“Kok, Ayah tanya seperti itu?”

“Nggak, Ayah cuma mau tahu.”

Ruangan itu, kembali dikuasai oleh suara televisi. Ayah segera beringsut dari tempat duduknya, masuk ke dalam ruangan kerjanya. WD mendengar kalau HP ayahnya berbunyi. Dari jauh, terdengar seseorang menelpon Ayah

“Iya, nanti saya transfer ke rekening kamu. Yang penting sediakan dulu barangnya. Lebih baik secepatnya, karena kami sangat butuh barang itu bulan depan,” suara Ayah.

Pasti itu soal pekerjaan. Ayah selalu tidak pernah mencampurkan urusan keluarga dengan pekerjaan. Kami tidak pernah tahu, apa yang dia lakukan, apa proyek barunya, bahkan Ibu pun tidak. Semua yang ada di kantor, tidak kami tahu. Yang penting adalah kami bahagia.

***

Aku pulang terlambat. Ada banyak rapat hari ini di sekolah. Aku kan ketua OSIS. Aku pulang saat azan magrib sudah berkumandang. Aku pun bergegas. Aku tidak mengerti kenapa, saat azan seperti ini masih banyak mobil berkeliaran di jalan. Apakah mereka tidak shalat. Bukankah kita hidup untuk beribadah?? Lalu kenapa mereka seolah-olah melupakan tujuan kita. Itulah, yang aku pertanyakan, untuk apa kita hidup? Ah, pertanyaan itu lagi. Setiap hari, aku selalu memikirkannya berpuluh-puluh kali, dan setiap aku memikirkannya, aku sselalu tidak punya jawaban tepat untuk itu. Membuat kepalaku sakit.

Perlahan kubuka pintu rumah, sepatu kuletakkan di tempatnya, tasku kupegang, aku akan naik ke kamarku, tapi di ruang tengah aku lihat Ibu menangis. Aku terkejut. Aku bertanya pada Ibu, apa yang telah terjadi.

“Ayah pergi Nak, Ibu tidak tahu Ayah ke mana. Ibu sudah cari ke kantornya. Katanya tugas dinas Ayah, sudah selesai satu minggu yang lalu. Ibu, benar-benar tidak tahu Ayah ke mana,” Ibu menangis sambil berbicara.

Aku cuma diam seribu bahasa. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Dua minggu lalu, aku masih bicara dengan Ayah, di atas sofa ini. Ayah yang kukagumi. Ayah yang membuatku kagum dengan idealismenya, dengan prinsip-prinsipnya. Ke manakah engkau, Ayah? Apa yang telah terjadi? Akhir-akhir ini beliau memang aneh, sangat aneh. Ayah selalu angkat telepon tidak di depan kami. Saat HPnya berdering, dia menjauh dan mengangkat telpon. Satu yang aku tahu. Ayah pergi entah ke mana.

***

Beberapa bulan kemudian, dan Ayah belum pulang-pulang juga. Ibu makin kurus. Dan Kakak semakin jarang tinggal di rumah. Aku seperti sendiri. Dan aku tidak sadar juga apa yang telah terjadi. Ibu mulai sakit-sakitan dan sering menggigau yang tidak-tidak. Tapi, Ibu masih cantik. Tidak apa, aku masih punya Ibu dan Kakak. Dan yang paling penting, aku memiliki semuanya di sekolah. Aku peringkat umum. Aku masih anak kesayangan guru-guru. Aku masih anak kesayangan Pak Kepsek. Aku cuma kehilangan satu. Cuma satu.

***

Selamat pagi pemirsa.
Kemarin, ditemukan mayat seorang anak muda berumur 20 tahun di sebuah got pada sebuah gang. Setelah mayat diidentifikasi, ternyata, mayat telah dibantai secara sadis. Mayat tersebut tidak memilki kartu ID, sehingga pihak kepolisian tidak bisa menghubungi keluarga korban. Hingga saat ini, polisi masih dalam tahap penyelidikan.

Jangan kemana-mana pemirsa, sesaat lagi, akan kami hadirkan berita tentang pencurian mayat, dari rumah sakit DC.

Berita televisi pagi ini membuatku merasa khawatir, Kakak belum pulang juga. Sudah tiga hari. Ibu semakin cemas dan tidak tahu harus mencarinya di mana. Semua rumah teman-temannya telah didatangi. Tapi, tidak ada satu pun.

”Akhhhh…………”

Kudengar suara Ibu menjerit dari ruang depan.

***

Orang-orang berdatangan ke rumah kami untuk melayat. Waktu aku mendengar Ibu menjerit, aku segera bergegas ke rung depan, dan aku cuma melihat Ibu pingsan, dan sekelompok orang berseragam polisi, berusaha mengangkat Ibu. Belakangan aku tahu, kalau mereka membawa berita buruk tentang kematian Kakak, hingga Ibu menjadi shock.

Kakak dibunuh orang. Berdasarkan penyelidikan polisi, Kakak punya banyak utang dengan para preman. Aku tidak tahu kenapa, Kakak punya hubungan dengan preman. Padahal kakak adalah laki-laki yang paling kukagumi setelah Ayah, padahal Kakak selalu punya prestasi. Padahal, Kakak adalah anak kesayangan Ibu. Padahal kami selalu memberikan apa yang dia inginkan. Apa yang sebenarnya terjadi ? Apa yang tersembunyi di balik kesempurnaan keluarga kami dulu. Apa yang telah terjadi ? Seperti apa Tuhan telah mempermainkan kami? Apakah Tuhan sudah mati, hingga kami tidak punya penolong lagi? Ah, itu kata Nietzche, bukan kataku. Aku cuma menirunya. Dia selalu berteriak, kalau Tuhan telah mati, dan oranng-orang telah membunuhnya. Dulu, aku tidak mengerti, bagaimana mungkin Nietzche mengatakan Tuhan sudah mati, padahal Dia selalu memperhatikan kami. Dialah yang membuat hidup kami menjadi sempurna. Ayah, Kakak, Ibu, dan semua yang kuinginkan, selalu bisa aku dapatkan. Tapi, itu dulu. Sebelum Tuhan mati. Sekarang, aku tiba-tiba merasa kalau Tuhan memang sudah mati. Dan dia tidak peduli aku. Mungkin dia sudah melupakanku.

Ibu tidak sadarkan diri, sedangkan aku cuma duduk di pojok ruangan. Diam, tanpa air mata, tanpa kata. Aku cuma diam. Kakak dibunuh. Berita di TV itu, tentang Kakak. Aku cuma tinggal berdua dengan Ibu. Meja makan ini, tidak akan penuh seperti biasanya, dua kursi kosong. Dari dalam kepalaku, ada suara…

Untuk apa kamu hidup?
Apa tujuan manusia hidup?

Aku cuma diam di balik semua ini, semuanya begitu cepat. Semuanya seperti membalik telapak tangan. Hidupku yang sempurna. Seperti waktu berhenti. Seperti malam akan terus malam. Sepertinya tidak akan datang pagi lagi untuk keluargaku. Sepertinya kami sedang ada di film dalam sebuah televisi.
Malamnya, aku baru sadar, kalau semua ini nyata. Kalau aku tidak sedang bermimpi. Sayup-sayup suara angin membawa lagu Peterpan.

Jalan hidup telah memilih
Menurunkan aku ke bumi
Hari berganti-dan berganti
Aku diam tak memahami
Mengapa hidup begitu sepi
Apakah hidup seperti ini
Mengapa kuselalu sendiri,
Apakah hidupku tak berarti
Mencoba bertanya pada manusia tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit Tuhan
Langit tak mendengar

***

Aku sadar tidak ada gunanya memikirkan semuanya, hidupku kembali normal bersama Ibu. Ibu sudah mulai menerima keadaan. Meski meja makan selalu punya dua kursi kosong. Meski semuanya tidak sesempurna dulu. Semuanya kembali normal. Sebenarnya, aku masih sering menangis. Tapi, apa gunanya menangis. Menangis tidak akan membuat apa yang hilang darimu, akan kembali. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Menangis hanya kan membuat kita ketinggalan kereta waktu. Biarkan semuanya berlalu. Lupakan. Untuk menjadi manusia yang bahagia, kita memang harus banyak-banyak melupakan. Harus banyak melupakan kenangan buruk. Harus lupa semuanya. Yang aku ingat hanyalah, aku tidak boleh kehilangan apapun di sekolah. Tidak boleh. Sekolah adalah milikku.

***

“Ibu, makanan sudah siap, makan yuk,” ajakku.

Aku sudah mengetuk pintu kamar Ibu berulang kali, tapi tidak ada balasan dari dalam. Kuberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya. Kamar Ibu kosong, tidak ada Ibu di sana. Aku mencari Ibu di setiap sudut rumah. Tapi, tidak ada Ibu di sana. Ibu tidak punya teman. Ibu tidak pernah keluar rumah. Tapi, tidak ada Ibu di sini. Ke mana Ibu? Aku capek mencarinya, mungkin Ibu hanya keluar sebentar mungkin. Mungkin cuma buat beli sesuatu. Dan aku duduk di meja makan. Sunyi. Tidak ada suara. Hanya detak jam. Sekarang ada tiga kursi kosong. Aku cuma diam dan berkata, “Selamat makan.”

Meski tidak ada satu orang pun di atas meja ini selain aku, aku makan dengan cepat. Lalu, kembali ke kamar. Belajar. Besok aku ujian.

Esoknya, aku kembali ke meja makan, meyiapkan makanan untuk empat orang, kuketuk pintu kamar Ibu, tapi tak ada suara. Kubuka. Dan di sana tak ada kehidupan. Aku cuma berpikir, mungkin urusan Ibu belum selesai, dan aku kembali menyediakan piring untuk empat orang dan mengucapkan selamat makan. Makan dengan cepat, pergi ke sekolah. Dan begitu selama beberapa hari. Aku yakin Ibu akan pulang.

***

Aku sudah menunggu banyak orang. Menunggu Ayah pulang, menunggu Kakak pulang, menungu Ibu pulang. Tapi, Ayah tidak pulang, Kakak tidak pulang, Ibu tidak pulang. Tidak ada satu pun yang pulang. Dan pagi itu, aku makan seperti biasa, menyediakan piring untuk empat orang, siapa tahu mereka pulang pagi ini. Pagi ini, aku tidak makan cepat. Dan tiga kursi kosong itu, belum juga pulang penghuninya. Aku menatap kursi kosong itu satu-persatu dan mengucapkan selamat makan. Sunyi sekali rumah ini. Aku menoleh ke sofa ruang tengah, tidak ada Ayah di situ. Yang ada hanya televisi yang membawa berita-berita. Sambil makan, kudengar sayup-sayup suara seksi pembaca berita.

Kemarin tengah dilangsungkan acara pernikahan besar-besaran seorang kepala camat di gedung X.

Aku makan dengan lambat, kemudian menoleh ke TV, aku melihat pengantin wanitanya seumuran Ibu. Wajahnya disorot kamera,
Ah, tidak mungkin itu Ibu. Kenapa? Kenapa Ibu ada di situ?? Kenapa?? Itu Ibu. Aku berlari ke arah televisi seperti ingin menempelkan wajahku ke layar kaca.

Berita selanjutnya, seorang anak muda berhasil menciptakan sebuah firewall yang mampu memberikan perlindungan paling efektif untuk komputer. Program tersebut telah diuji coba, dan memang, telah terbukti, tidak ada hacker yang mampu menembus lapisan keamannnya.

Aku masih heran dengan berita di TV, tiba-tiba saja wajah Kakak juga muncul di TV. Hah, itu Kakak? Kakak? Kakak masih hidup. Kenapa semua ini bisa terjadi? Kakak membuat Firewall. Ya, itu impiannya. Menjadi seorang programer. Aku bahagia. Tapi, Ibu??? Ibu menikah. Aku tidak percaya ini. Aku…. aku merasa seperrti mimpi.

Pemirsa, tetaplah bersama kami, berita selanjutnya adalah, tertangkapnya pemimpin kawanan teroris.

Aku tidak peduli dengan berita itu. Itu urusan mereka. Bukan urusanku. Teroris atau bom, itu dunia luar bagiku, di sini duniaku. Ketika wajah pemimpin kawanan teroris itu di sorot kamera, aku jadi terkejut. Itu………… Ayah.

***

Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya. Tiba-tiba saja, semua yang kusayangi, berubah jadi orang lain. Orang yang tidak kukenal. Tiba-tiba saja aku merasa semdiri dan tak punya siapa-siapa. Aku duduk bersandar di dinding, menekuk lutut, dan diam. Hanya diam.

***

“Akhhhhhhhhhhhhhhh…………”

“Ih….. kamu dengar tidak, ada suara orang teriak di sana.”

“Jangan sembarang bilang ah, kita baru aja lewat rumah paling angker sekompleks nich,” ujar seorang hansip penjaga malam, ketakutan.

“Walah, aku serius Bang, barusan memang ada suara-suara loh,” tegas teman si hansip.

“Pulang yuk !!” ajak hansip ketakutan.

***

Aku berlari keluar rumah. Aku berteriak sepuasku. Gelegak batin ini sudah kutimbun sejak lama. Apa yang terjadi ? Apa yang telah terjadi aku tidak mengerti. Aku kalap. Aku berlari, aku ingin lari ke ujung langit. Aku ingin berlari sampai kaki langit. Tapi, langit tidak bertepi. Aku akan terus berlari. Aku marah. Aku sedih. Aku bingung. Aku tidak mengerti apa-apa tentang hidup. Aku tidak mengerti. Aku tidak sempurna lagi. Padahal aku selalu menuntut kesempurnaan itu. Selalu. Aku ingin kesempurnaan. Tapi, yang kupunyai kini hanya kepingan-kepingan masa lalu. Hanya sebuah kenangan. Aku tidak punya masa depan. Semuanya pergi. Mencari dunianya sendiri. Aku sayang Ayah. Aku sayang Ibu. Aku sayang Kakak. Tapi, mereka kini seperti tidak kenal aku. Mereka seperti tidak pernah bertemu aku sebelumnya, seperti di rumah ini, memang pada awalnya aku sudah sendiri. Seperti Tuhan memang menciptakanku sendirian. Tanpa siapapun tanpa apapun. Malam ini terlalu sunyi. Dan aku cuma bisa berteriak. Apa yang bisa kumengerti dari hidup? Aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak mengerti sekarang, siapa aku. Apakah aku memang manusia? Atau aku hantu gentayangan? Hantu yang dipusingkan dengan masa lalunya. Atau aku cuma sebuah cerita? Atau aku cuma sebuah tokoh dalam cerpen yang dipegang oleh seorang anak yang membaca kisah hidupku sambil menangis, tapi ketika ibunya memanggilnya untuk makan siang, dia menghempaskan buku cerita tersebut. Dan melupakanku. Seolah-olah aku tidak berarti. Sebegitu mudahnyakah aku dilupakan?? Apakah aku cuma tokoh sebuah cerpen yang akan selesai, akan dilupakan begitu cerita selesai? Entahlah, aku tidak tahu siapa aku. Aku bahkan tidak yakin, apakah aku ini benar-benar nyata atau tidak. Aku tidak yakin apakah aku ini hidup atau hanya sebuah tokoh dalam pikiran seorang pengarang cerpen. Aku sayang mereka. Tapi, kenapa tiba-tiba mereka berubah jadi orang lain. Aku……. aku marah. Aku tidak tahu, bagaimana harus menghilangkan kemarahan. Di sini tidak ada Ibu, yang akan menenangkanku saat aku marah, saat aku sedih. Ibu… Ibu sudah jadi orang lain.

Aku melihat seseorang di balik kegelapan sana, siluet wajahnya diterpa cahaya bulan, membuat wajahnya jelas terlihat. Itu, itu kepala camat yang dinikahi ibuku. Aku, aku harus membunuhnya. Dia sudah mengambil Ibu, dia sudah mengambil orang terakhir yang masih bisa kumiliki. Dia sudah meghalangiku untuk menjadi sempurna. Akan kubunuh dia. Aku masih memegang garpu saat makan tadi, kutusukkan di matanya, di dadanya, di jantungnya, di hatinya, supaya dia tahu betapa sakitnya, kehilangan. Dia harus kehilangan nyawanya. Sedihkah dia kalau dia kehilangan nyawanya? Sedihkah dia kalau ruh berpisah dari jasadnya?? Yang mana sebenarnya manusia itu, dalam jasad atau dalam ruh?? Aku tidak mengerti. Apakah saat tubuh berpisah dari ruh, maka kita akan ada di mana?? Apakah kita adalah jasad atau ruh?? Entahlah. Aku sudah membunuhnya, mungkin dia sudah tahu, betapa sakitnya kehilangan, betapa sakitnya rasa sepi itu. Betapa…………………

Semuanya gelap.

***

“Minggir, saya polisi !”

“Ada mayat dan satu orang yang pingsan, Pak.”

“Cepat bawa ke rumah sakit.”

***

“Dok, bagaimana dengan anak saya Dok??”

“Oh, anda orang tuanya WD??”

“Benar, Dok. Kami orang tuanya,” ujar dua orang suami istri.

“Saya kakaknya, Dok” ujar seorang laki-laki.

“Dia ada di ruang tiga, sedang bicara tak karuan. Semalaman dia tidur nyenyak. Kondisinya sudah agak baikan, tapi saya sarankan agar anda menjaga jarak dengan dia, karena saat ini dia sangat berbahaya. Dia selalu mengira, orang yang mendekatinya sebagai perusak hidupnya. Saat saya tanyakan tentang anda semua, dia bilang, sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Katanya, mamanya menikah dnegan seorang camat. Kakaknya tiba-tiba saja melupaknnya dan menjadi orang lain. Dan ayahnya, saat saya tanyakan tentang anda, dia mengatakan kalau anda adalah seorang teroris dan baru saja dieksekusi mati. Berdasarkan hasil diagnosa penyakitnya, dia mengalami gangguan jiwa.”

“Apa penyakitnya Dok??”

Tapi, dokter Susilo segera berjalan cepat.

“Dok, Dokter Susilo, apa penyakit anak saya?”

“Anak anda penderita kepribadian ganda, dia punya dua kepribadian. Maafkan saya, kalau saat ini dia tidak mengenali anda. Satu kepribadiannya entah bagaimana, hilang begtu saja, yang menguasainya saat ini, adalah kepribadiannya yang satunya, kepribadian lain yang beranggapan kalau dia adalah sebatang kara. Anda masih beruntung, sebagian besar kasus kepribadian ganda, memiliki jumlah kepribadian lebih dari dua, bahkan ada yang sampai 24 kepribadian dalam satu tubuh,” terang Dokter Susilo.

***

Wajah ayu itu, menatap dinding putih yang catnya mengelupas, dengan hampa. Tiba-tiba dia berbalik, dengan tangan masih dirantai, dia berkata, “Dokter saya tahu, saya sudah mengerti. Saya tahu.”

Ada binar di matanya, cahaya kegembiraan. Kedua orang tua dan kakaknya yang tepat berada di sebelah Dokter Susilo menjadi terkejut.

Dengan sabar Dokter Susilo berkata, “Kamu tahu apa Dek??”

Mata coklat itu, berbinar dan berkata, ”Saya tahu, kalau saya tak pernah ada, saya cuma imajinasi. Saya cuma tokoh cerpen yang hanya hidup dalam kepala pengarang dan pembaca cerita kehidupan saya. Saya tahu, Dok. Saya tahu kalau saya tidak pernah ada. Dan setelah cerita hidup saya selesai, atau orang sudah bosan dengan cerita hidup saya, saya akan dilupakan. Saya…… saya cuma tokoh cerpen, Dokter. Ha.. ha.. ha..”

***

Kringggggg………….kringgggggggg..kringgggggggg.

“WD, WD sayang, ayo bangun Sayang, Ayah sudah menunggu di bawah, nanti kamu terlambat ke sekolah.”

“Hah…..hah……” Bukan bunyi jam weker yang membuatku terbangun, tapi suara panggilan Mama.

Aku tersentak dari tidurku. Aku, aku mimpi. Mimpi kalau aku kehilangan semuanya. Aku melihat Mama masuk dan duduk di tepi tempat tidurku. Aku melihat Mama, ada rasa rindu di hatiku. Mamaku sayang. Kupeluk mamaku.

“Aku sayang Mama !!!”

“Ihh….iiihh… apaan sih, kayak tidak pernah ketemu setahun saja !!” kata Mama, dengan heran.

Aku segera beranjak dari tidurku. Aku masih SMA. Tapi, aku berdiri di atas tempat tidurku, dan berteriak, “Ma….. Ma…. Mama sayang, aku tahu satu hal loh!!!”

“Apaan sih, kok, bangun tidur, tiba-tiba kamu jadi sok manis begitu, sok misterius, kayak detektif yang di TV ?”

“Ma, aku beritahu satu hal deh.”

“Apaan sih? Sana cepat beritahu Mama.”

“Mama……. Mama…. Ma….. aku tahu Ma, kalau aku………..”

“Kalau kamu….,” lanjut Mama.

“Kalau aku bukan tokoh cerpen, kalau aku nyata, Ma. Aku benar-benar hidup !!! Yuhui…. hidup ini indah. Aku bahagia jadi anak Mama, aku bahagia hidup. Aku suka dunia yang seperti ini.”

Mama keheranan dengan tingkahku pagi itu, aku melompat-lompat di atas tempat tidur, aku tiba-tiba jadi tahu jawaban semua pertanyaanku selama ini, kalau tujuan manusia hidup adalah untuk menjalani hidup. Untuk menjadi manusia yang bahagia. Dan untuk menemukan Tuhan. Untuk mensyukuri semua yang telah Dia berikan pada kita. Sesaat aku sadar, betapa sempurnanya hidupku. Betapa hidup seperti dalam mimpiku itu, sangat membuatku menderita. Ah, cuma mimpi. Aku bahagia sekali hari ini.

Aku tahu,
Betapa sempurnanya hidupku,
Aku tahu, aku tidak butuh apa-apa lagi
Aku sudah memiliki semuanya
Aku tahu kalau Nietzche salah,
Aku tahu kalau Tuhan tidak mati.
Aku tahu kalau Dia tidak pernah melupakanku,
Meski aku kadang melupakan-Nya,
Aku tahu kalau……
Dia begitu sayang padaku.
Aku jadi semakin…….
Merasa bersalah karena telah berkali-kali
meninggalkan-Nya

____________________________________________________________________

Desember 27th, 2008 by L_179

sumber : kolomkita.com


Sebenarnya, tidak ada yang istimewa pada saya. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya senang bersenandung kecil saat sedang menjemur cucian di siang hari. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga sering merajut kala matahari mulai tenggelam dan saya tak menemukan pekerjaan lain untuk dikerjakan. Kala semua selimut sudah terlipat rapi, semua perkakas sudah dicuci, dan burung hantu mulai berjaga diselingi lolongan anjing.

Dan seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya jatuh cinta. Cinta yang kadang membuat dada terasa sesak penuh rindu, dan getaran yang menjalari rona merah di pipi yang tersenyum malu-malu. Dan kali ini, saya jatuh cinta pada Hujan.

****

Saya nyaris lupa kapan tepatnya saya jatuh cinta. Yang saya ingat, saat itu desa kecil kami dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan lamanya Hujan tidak turun mengguyur. Sawah-sawah berpetak yang semula menghijau segar mulai kering dan pecah-pecah. Sementara air sungai terus menyusut. Karena itu, air betul-betul dihemat pemakaiannya. Yang utama adalah air minum, sisanya baru menyusul. Kami sampai lupa, kapan terakhir kalinya kami mandi dan mencuci.

Menurut Mak Sani, dukun terkenal di desa kami, Hujan sedang bosan. Tentu saja, pernyataan Mak Sani itu membuat geger para warga kampung.

“Hujan bosan? Bagaimana mungkin ia bisa bosan? Ia adalah Hujan, yang seharusnya membawa kesegaran!,” teriak seorang warga. Sementara warga lainnya mulai berteriak lebih kencang, Mak Sani mengangkat tangannya.

“Diam semuaa!!!, ” katanya. Dan seperti biasa, kalau Mak Sani sudah berbicara, maka tak ada seorang pun berani buka mulut.

“Tentu saja Hujan bisa bosan. Dia juga hidup, dia juga punya perasaan. Selama ini dia sudah mendatangkan banyak berkah untuk kita, dia menyuburkan sawah kita, dia mengaliri sungai-sungai kita, dia memuaskan dahaga kita, sementara apa yang kita berikan buat dia?, ” lanjut Mak Sani.

“Lalu bagaimana caranya? Apa yang bisa kita berikan buat hujan?, ” cetus seorang warga.

Mak Sani berdehem sedikit. “Ehm, begini, kemarin saya sempat bicara dengan Hujan. Katanya, dia butuh seorang wanita untuk menemaninya. Dan wanita itu haruslah perawan yang berambut panjang,” tutur Mak Sani panjang lebar.

Dan seketika seluruh mata memandang pada saya.

***

Tentu saja, saya bukan satu-satunya gadis yang perawan di desa. Tapi sejak ada salon Bu Marni, para gadis seperti berlomba untuk memotong rambutnya.

“Kan rambut pendek sekarang lagi tren. Masa kamu nggak bosan, tiap hari harus melumuri rambutmu dengan merang? Belum lagi kalau siang, gerah!,” ujar Atik, yang paling modern diantara kami.

Tapi saya tetap bertahan dengan rambut sepinggang. Saya paling suka menyisir rambut, merasakan sisir yang meluncur dari akar rambut sampai pinggang saya. Saya suka merasakan helai-helai rambut di leher, pundak, dan punggung, saat saya berbaring tidur. Karena itu, saya tak segan melumurinya dengan merang sampai hitam berkilat. Memberinya telur dan lidah buaya, agar ia tumbuh subur. Bagi saya, rambut ini adalah permata. Tapi sekarang, gara-gara rambut panjang sialan ini, saya malah ditumbalkan untuk Hujan.

Hari ini, saya memakai kebaya yang terbagus. Tadinya Atik dan Bu Marni ingin merias wajah saya, tapi dilarang oleh Mak Sani.

“Hujan paling benci segala yang buatan. Sisirlah rambutmu sampai berkilat, dan tunggulah di puncak bukit,” begitu pesan Mak Sani.

Disini, diatas bukit inilah saya menunggu Hujan. Dalam hati, saya mengutuki salon Bu Marni dan teman-teman yang telah memotong pendek rambutnya. Saya bisa merasakan tangan ini mulai basah oleh keringat. Dibawah, tampak para warga desa sedang menatap langit dengan wajah penuh harap. Semua sedang menunggu datangnya keajaiban.

Satu menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit. Untuk mengusir sepi, saya mulai bersenandung lirih. Tembang-tembang Jawa yang dulu sering dinyanyikan almarhum Ibu untuk menidurkan saya.

Seketika, mulai terdengar suara guruh di kejauhan. Tak lama, Hujan turun. Mula-mula gerimis, kemudian turun menderas. Katanya, ia terpesona mendengar nyanyian saya. Saat itu, saya cuma bisa tersipu mendengar pujiannya.

Sementara di bawah, seluruh warga bersorak-sorai. Hujan turun sampai sore. Dan malamnya, warga desa berpesta semalam suntuk. Ratusan ucapan selamat dan terima kasih datang bertubi-tubi pada saya.

“Terima kasih Raya! Kau telah menyelamatkan desa kita!, ” begitu ujar mereka. Dan saya cuma tersenyum, lalu kemudian diam-diam menyingkir pulang.

Kebaya saya masih lembab sisa terguyur Hujan. Saya masih ingat, tetesannya yang membelai rambut saya, sambil membisikkan kekaguman atas senandung saya. Pelan, saya cium kebaya saya. Masih ada bau segar Hujan disana. Dan malam itu, saya tertidur memeluk sehelai kebaya basah, sambil berharap bisa bertemu Hujan lagi…

***

Esoknya, ternyata Hujan turun lagi. Tetesannya yang merdu di genting membuat saya seketika terjaga.

“Maaf membangunkanmu sepagi ini. Tapi aku merindukanmu Raya,” bisiknya lembut.

Dan saya langsung lari keluar rumah. Di halaman, saya membentangkan tangan selebar-lebarnya, agar Hujan bisa memeluk saya. Ia pun menyambut pelukan saya. Hujan turun makin deras. Setiap tetesnya bercerita tentang kerinduannya. Pada nyanyian saya, pada rambut saya, pada wajah saya yang tersipu. Dan di tengah derasnya Hujan, saya mulai bernyanyi. Semula hanya senandung lirih, yang makin lama makin kencang. Sementara Hujan mulai reda. Saya tahu, dia sedang mendengarkan.

“Terima kasih. Aku tahu, kamu pasti mau melakukannya,” bisiknya, lalu mengecup bibir saya.

***

Semenjak pagi itu, Hujan makin sering datang. Kadang ia datang di tengah malam, saat para warga yang terjaga sudah mematikan lampu terakhir. Kadang, ia datang di pagi buta, saat hari masih berkabut, sementara anak-anak masih mendengkur pulas dan meringkuk nyaman dalam hangatnya buaian selimut.

Saat-saat seperti itu, saya selalu keluar rumah. Sambil bersenandung pelan, saya akan memeluknya dalam gerimis. Dan setiap kali tubuh saya sudah terlalu basah, Hujan akan mengingatkan saya untuk segera masuk ke rumah dan menghangatkan diri.

“Kalau terlalu basah dan kedinginan, kamu bisa sakit. Masuklah. Aku akan menemanimu di luar, sampai kau tertidur,” begitu katanya.

Dan tepat setelah saya menutup pintu, angin akan berhembus lembut di tengah gerimis. Saya tersenyum. Sekarang, dia yang sedang bernyanyi untuk saya. Diatas tempat tidur yang hangat, saya akan berbaring diam-diam mendengarkan. Saya tahu, Hujan tak akan berhenti sebelum saya tertidur pulas.

Keesokan paginya, helai-helai daun yang basah dan genangan air yang becek, meninggalkan jejak, bahwa Hujan telah terjaga semalaman. Dan saya tahu, dia tidak berdusta.

*****

Toh seperti pasangan kekasih lainnya, kami juga punya masalah. Kali ini masalah itu datang dari gunjingan orang-orang kampung. Bermula dari keluhan para ibu, yang cuciannya sering tak kering. Dilanjutkan dengan keluhan sejumlah penduduk yang terserang flu, dan sejumlah petani yang gagal panen, karena cuaca yang kelewat lembab untuk tanaman mereka.

Gunjingan itu datang dengan berbagai bentuk. Saat langit mulai mendung, mereka akan mulai menatap sinis dan mencibir. Lalu mereka akan pulang ke rumah, menutup semua pintu. Berbisik-bisik lewat sela-sela dinding bambu rumah mereka yang rapuh. Saya bisa mendengarnya.

Tapi tidak demikian halnya dengan Hujan.

Dengan butanya, ia terus saja datang. Dan seperti pasangan yang sedang kasmaran, kami pun mabuk dengan cinta. Setiap kali melihatnya, mendengarnya, merasakannya, saya tahu bahwa hanya saat inilah yang terpenting. Bahwa dalam dunia kami yang kecil dan sederhana, hanya ada saya dan dia. Mabuk karena cinta. Rindu karena cinta. Buta, tuli, karena cinta. Menggila karena cinta.

Ya, hanya ini yang terpenting….

*****

“Mak Sani, bagaimana ini, Hujan kok makin sering datang!” teriak seorang warga saat rapat desa.

”Iya, kita semua sudah bilang sama Raya. Tapi dia tetep aja nggak peduli. Masa dia enak-enak pacaran, kitanya kebanjiran!” tandas warga lainnya.

”Pokoknya, keadaan ini tidak boleh berlarut-larut! Kita harus ambil tindakan! Kita harus tegas!” cetus seorang pemuda, yang dikuti oleh sorak-sorai warga.

Dan Mak Sani cuma bisa mengangguk lemah.

*****

”Bagaimana Mak Sani, semua siap?” tanya Kepala Desa.

Mak Sani menoleh pada saya, yang terikat pada sebuah tiang kayu. Di bawah kaki saya, ada bertumpuk-tumpuk kayu bakar dan ranting kering. Di kejauhan, tampak beberapa pemuda membawa jerigen-jerigen bensin.

”Siap,” ujar Mak Sani, sambil menggenggam erat sebungkus korek api.

Ia mulai menyalakan koreknya. Sementara, mata saya tak lepas menatapnya. Saya tidak pernah menyalahkannya. Saya juga tidak menyalahkan para warga. Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja.

Saat api mulai menjilat kaki saya, sekilas saya mendengar Mak Sani berbisik.

”Maafkan saya Raya, saya terpaksa. Kalau saya tidak melakukan ini, mereka akan mengusir saya. Ma…..,” bisik Mak Sani.

Saya tidak sempat mendengar lanjutan kalimatnya. Saya cuma bisa melihat lidah api berkobar-kobar di sekeliling saya, sorak sorai warga, dan rasa rindu yang tak tertahankan pada satu-satunya kekasih saya. Pelan-pelan, saya bersenandung. Untuknya, hanya untuknya.

Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja. Itu saja…

*****

Sore itu tetes Hujan yang terakhir memadamkan api unggun di balai desa. Sayangnya, ia terlambat. Api unggun terlanjur hanya menyisakan seonggok mayat perempuan yang sudah menghitam. Hujan memeluk kekasihnya, memanggilnya, memerciki wajahnya dengan air dingin. Tapi kekasihnya tetap tak bergeming.

Malamnya, Hujan berduka. Ia turun luar biasa deras, seolah-olah ingin menenggelamkan seisi desa. Guruh menggelegar, sementara angin ribut meraung-raung. Tapi bila warga kampung itu sungguh-sungguh mendengarkan, maka akan terdengar tangis duka Hujan yang menyayat memilukan. Tangis duka yang mengiringi kepergian kekasihnya. Satu-satunya kekasihnya.

Malam itu juga sekaligus malam yang tak akan pernah terlupakan oleh warga kampung itu. Itulah malam terakhir mereka bisa merasakan tetes hujan. Karena sejak malam itu, Hujan tak pernah lagi turun disana.

*****

____________________________________________________________________

Sumber : Kolomlita.com

April 25th, 2007 by retnadi




Bercerita tentang seorang pria bernama Jean-Dominique Bauby terkena penyakit stroke. Seluruh tubuhnya lumpuh kecuali telinga dan mata kirinya. Ia masih bisa berkomunikasi dg orang lain meskipun dg kedipan matanya. Hal tersebut tak menjadi halangan bagi dirinya untuk menulis sebuah buku. Dg bimbingan dan kesabaran terapisnya, ia mulai menulis sebuah buku tentang dirinya. Ia menandai huruf demi huruf dg kedipan mata.

Melalui film ini kita diajak masuk dunia Jean-Dominique Bauby. Seperti apa rasanya menjadi orang yg hanya bisa mendengar dan hanya bisa menggerakkan mata kirinya. Sebagian besar film ini mengambil sudut pandang Jean-Dominique. Meskipun masa lalu yg ia ceritakan relatif sedikit namun dapat mewakili pribadi dirinya seutuhnya.

Ceritanya apik dan menarik namun saya merasa sepertinya cerita film ini kurang lengkap. Mungkin akan lebih jelas dan lengkap jika saya membaca bukunya.

7.5/10



DOWNLOAD
Sub

Note : Change rar to avi

"Fear can hold you prisoner. Hope can set you free."

Andy Dufresne (Tim Robbins) dituduh membunuh istrinya dan selingkuhannya. Ia dikenai hukuman penjara selama 2 kali seumur hidup. Di penjara ia mengalami kehidupan yg sangat berat. Beberapa kali ia mengalami penyiksaan dan pelecehan seksual.

Setelah sekian lama nasib sedikit demi sedikit mulai berpihak padanya. Latar belakangnya sebagai bankir membuat ia dipercaya untuk mengelola keuangan kepala sipir dan para sipir lainnya dalam perhitungan pajak secara efisien. Termasuk menggelapkan uang kotor yg diterima kepala sipir. Sebagai imbalannya ia mendapat perlakuan khusus dan terhindar dari siksaan dan pelecehan seksual yg dilakukan oleh gang the sisters.

Di penjara ia mendapatkan hidupnya lebih berarti bagi orang lain dg mengembangkan perpustakaan yg layak bagi para penghuni penjara lainnya. Selain itu, ia bisa merasakan hubungan persahabatan dg Red (Morgan Freeman) lebih kuat dan bermakna daripada hubungan cintanya dg istrinya.

Melalui sudut pandang sahabatnya, kita diajak menyaksikan ketegaran dan perjuangan Andi dalam penjara yg tragis sekaligus ironis. Kita akan terkagum akan kecerdikan dan harapan yg dimiliki Andy saat ia melalui hari2nya yg berat di dalam penjara. Narasi cerita dg kata2 yg indah membuat cerita semakin hidup. Tak heran kalau sampai review sederhana ini ditulis Shawsank Redemption masih menempati rating teratas di IMDB.

Rating : 9/10



DOWNLOAD




Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Translate