,


Bersetting tahun 1980 an di El Salvador. Bagi anak-anak desa Cuscatanzingo, mendekati umur 12 tahun menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka. Cuscatanzingo berada di wilayah konflik perang saudara di negara El Salvador. Di usia tersebut mereka dipaksa menjadi tentara perang atau bergabung dengan kelompok pemberontak. Ironis anak-anak yang dulunya bermain bersama harus berpisah dan akhirnya saling bermusuhan satu sama lain.
Chava sebentar lagi akan berumur 12 tahun. Setelah ayahnya pergi, ia harus menjaga adik-adiknya di kala ibunya pergi atau bekerja. Perang dapat terjadi sewaktu-waktu, khususnya malam hari. Chava harus selalu waspada. Tak jarang peluru nyasar merenggut nyawa penduduk.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Meski berada dalam suasana perang, Chava dan teman-temannya dapat tetap bermain dengan gembira meski waktu yang mereka miliki sangat terbatas. Layaknya anak pra remaja, Chava mulai mengenal 'cinta monyetnya'. Di tengah ketakutan anak-anak ini berusaha ceria dalam dunia polos mereka. Mereka tak tahu takdir apa yang akan mereka akan lalui. Di usia yang sangat dini mereka dipaksa untuk menerima takdir yang belum bisa mereka pahami sepenuhnya.
"Innocent voices / Voces inocentes" adalah salah satu dari sekian banyak drama yang berlatarkan perang. Diadaptasi dari kisah nyata, film ini secara eksplisit menggambarkan liku-liku kehidupan di tengah perang. Tentu yang paling menderita adalah anak-anak yang jiwanya masih lemah dan belum mengerti. Dari momen sedih sampai gembira, semuanya dibangun dengan rapi dan sederhana. Tak perlu menilai mana pihak mana yang paling benar. Yang terpenting pesan yang disampaikan dalam film ini umumnya sama dengan drama perang sejenis, perang hanya membawa kesengsaraan.
9/10
Setelah kematian ibunya, sepasang kembar Jeane Marwan dan Simon Marwan baru mengetahui kalau mereka memiliki seorang kakak dan kenyataan lain bahwa ayah mereka masih hidup. Atas surat wasiat ibunya, Jean dan Simon diminta mencari kakak dan ayah mereka serta memberikan masing-masing sebuah surat yang ditulis oleh mendiang ibunya. Berbeda dengan saudarinya Jean, Simon tidak mempercayai surat wasiat ibunya terlebih setelah mendengar salah satu wasiat ibunya yang mengatakan kalau ibunya menginginkan untuk dikuburkan dalam keadaan telungkup dan telanjang tanpa peti mati serta tanpa batu nisan.
Tanpa ditemani Simon, Jean berangkat sendirian menuju timur tengah menelusuri jejak masa lampau ibunya untuk mencari keberadaan ayah dan kakaknya. Dari sinilah cerita dimulai. Melalui pencarian Jean, saya diajak mengikuti kisah pahit Nawal Marwan ( ibu Simon dan Jean) yang melalui hidupnya di tengah peperangan hingga ia harus terpisah dari anaknya. Menggabungkan masa lalu Nawal Marwan dan masa kini yang sedang dilalui Jean dan Simon dalam satu plot cerita dengan penceritaan alur maju mundur. Pelan tapi pasti "Incendies" membangun twist demi twist begitu solid sampai pada klimaksnya saya dihadapkan pada twist akhir yang mencengangkan namun begitu masuk akal. Twist cerita paling logis dibandingkan twist cerita lainnya yang sejenis sejauh yang pernah saya tonton sampai saat ini. Meski garis waktu cerita dari masa lalu Nawal Marwan saling berjauhan, namun setiap momen yang ditampilkan mampu mewakili penjelasan cerita secara gamblang, jelas dan mudah dimengerti.
9/10
